Selasa, 23 April 2019

Bergerak, Menggapai Asa - Narasi Perjalanan Pak Guru di Pesisir Barat

ad300
Advertisement
Bergerak
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

"Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, maka tetaplah bekerja keras utk urusan yang lainnya"

Bergerak adalah eksistensi kemanusiaan seorang hamba sebagai makhluk hidup. Ia dpt dikatakan sebagai manusia selama ia masih bergerak dan ketika itu tidak terjadi lagi, maka sesungguhnya ia sama dengan mayat.
Bergerakpun harus dalam koridor, ketentuan dan kewajibannya sebagai hamba Ilahi, karena bila bergeraknya bukan untuk tujuan itu, maka besar kemungkinan eksistensinya sebagai manusia akan hilang bahkan terperosok jauh melebihi nilai eksistensi hewan.
Bergerak dng tujuan dan cara yang baik harus selalu beriringan dengan ikhtiar yg maksimal dan kepasrahan yang tulus menyerahkan semua hasil kepada Yang Maha Penentu, sebab jika tidak demikian, ketika hasil tak bersesuaian dengan angan dan harapan maka akan menimbulkan rasa sakit yang tak berkesudahan.

وَ إِلَی رَبِّكَ فَارْغَبْ.

Hari ini, tepatnya tanggal 28 November 2018 kami bergerak menuju Lampung dalam rangka Program Visiting Guru Pendidikan Agama Islam ke Wilayah Perbatasan Negara yang merupakan salah satu program strategis Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia yang telah dilaksanakan dari tahun ketahun. Pada tahun 2018, program ini dilaksanakan pada tanggal 23 November sampai dengan 4 Desember 2018, yangmana rangkaian kegiatannya terbagi dalam 3 agenda, yaitu; pembekalan peserta Visiting, Pelaksananaan Visiting, serta Evaluasi dan Pelaporan.
Sebelum pelaksanaan visiting ini, kami para peserta visiting diberikan pembekalan tentang mekanisme dan tahapan yang harus dilaksanakan pada saat visiting. Kegiatan pembekalan ini berlangsung secara marathon selama 2 hari, yaitu pada tanggal 26 dan 27 november 2018. Para peserta diberikan gambaran umum tentang pelaksanaan visiting dan diberikan kesempatan untuk mengembangkan kegiatan sesuai dengan kebutuhan guru-guru pada wilayah sasaran masing-masing visitor.
Bergerak ini adalah sebagai manifestasi wujud eksistensi kemanusiaan sebagai makhluk yang harus terus bergerak. Semoga tujuan "bergerak" yg baik ini dpt kami laksanakan dengan cara yang baik pula sesuai dengan ketentuan-ketentuan Ilahi. Akhirnya, hanya kepada Yang Maha Penentu kami serahkan hasil ikhtiar bergerak ini, semoga berberkah. amin.


Semangat menggapai Asa.

Melihat dan menyusuri jalanan dan suasana daerah ini melambungkan ingatanku pada daerah tempat pengabdianku sepuluh tahun silam. Banyak potensi local terpendam yang belum dikapitalisasi secara maksimal, namun denyut pembangunan infrastruktur terlihat dimana-mana menandakan ada semangat untuk maju mengejar ketertinggalan dari daerah lain yang lebih dulu bergerak.
Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung adalah daerah pemekaran baru sejak dua tahun silam. Ditempat inilah kami diamanahkan untuk melaksanakan program visiting dalam rangka silaturrahim dan sharing informasi seputar Pendidikan Agama Islam baik pada masalah konten kurikulum, pembelajaran maupun penilaian dan pengembangan diri bagi guru-guru Agama Islam di wilayah ini.





Kearifan local masyarakat disini masih sangat mudah ditemui. Keramahan penduduk khas melayu seakan menjadi suplemen tersendiri bagi kami dalam melakukan tugas visiting. Bahkan, sepertinya hamper semua orang saling mengenal disini. Maka tak heran ketika bertanya tentang orang tertentupada warga disini, hamper dipastikan akan sangat mudah menemuinya. Suatu hal yang hampir “mustahil” ditemui dikota-kota besar dengan kehidupan individualistisnya.
Sebagai daerah pemekaran baru, tidak heran jika sarana dan prasarana masih sangat terbatas disini. Semua instansi pemerintah masih berkantor dirumah-rumah penduduk yang dibayarkan sewanya setiap tahun. Maka jangan heran kalau dapurpun disulap menjadi ruang kerja untuk kepala seksi.
Keterbatasan yang ada tidak membuat warga disini menjadi tidak lebih semangat, justru segala keterbatasan ini membuat potensi yang dimiliki dapat dikerahkan secara lebih maksimal. Disini, ada semangat, semangat untuk berbuat, bekerja memberikan yang terbaik buat daerah yang sama dicinta.

Cium tangan, tradisi yg terabaikan.

Percepatan penularan kebiasaan dan akhlak buruk seseorng bagi rekan kerjanya jauh melebihi kecepatan penularan virus kebaikan. Kebiasaan buruk sangat rentan menjadi kebiasaan yang permanen sementara virus kebaikan biasanya hanya bersifat temporer.
Ketika anda berkontribusi pd terciptanya kebiasaan-kebiasaan buruk bagi lingkungan kerja anda maka insyaflah karena itu berarti anda harus siap mmpertanggung jawabkan perilaku buruk orng lain yang anda contohkan.  Namun, ketika anda hadir menjadi angin penebar virus kebaikan bagi orng lain, maka berbahagialah karena itu berarti anda akan ikut menuai kebaikan yang orng lain kerjakan.
28 Agustus 2018 adalah hari kedua kami berada di Pesisir Barat. Hari ini kami tim visiting GPAI Lampung berkunjung ke Kantor Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan Kab. Pesisir Barat Prov. Lampung. Kunjungan kami disambut dengan penuh keramahan dan suasana keakraban. Kami tiba sbelum jam kantor dibuka dan ada pemandangan yang sangat brkesan ketika para pegawai tiba dikantor dimana setiap orang memberi salam dan berjabat salam pada setiap orang yang berada diruangan tanpa terkecuali termasuk para pejabatnya, dimana yang muda berjabat salam sambil cium tangan pada yang lebih sepuh. Sebuah tradisi khas melayu yg hampir punah ditempat-tempat tertentu.
Jabat tangan adalah budaya yang saat ini hanya dididikkan secara tekstual dan dipraktekkan bagi anak didik. Yah, hanya bagi anak didik saja, sementara orng dewasa hanya menganggapnya angin lalu. mungkin gengsi, mungkin malu, atau merasa terhina jika harus berjabat tangan sambil mencium tangan orng yang lebih tua. Tapi disini, budaya itu hidup selaras dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakat sampai pada instansi-instansi pemerintahan. terlihat sangat genuine khas masyarakat melayu.
Budaya ini harus terus dirawat bahkan dijadikan semacam virus kebaikan hingga menyebar luas dan permanen didaerah-daerah lain yang sudah semakin jauh dari nilai-nilai ketimuran.


Tentang sebuah simbol

Salah satu cara yg dapat dilakukan untuk mengekspresikan gagasan dan ide-ide adalah dengan simbol, hal ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, gambar maupun gerakan atau benda tertentu.
Meskipun simbol bukan menjadi subtansi dari nilai yang diwakilinya, namun ia butuh penghayatan dalam mengekpresikannya sehingga nilai dan subtansinya daptt tersampaikan secara wajar.
Pemilihan simbol tertentu pasti memiliki makna historis maupun filosofis. untuk itu, simbol yang sama baik dalam bentuk maupun cara mengekspresikannya belum tentu memiliki nilai dan subtansi yang sama pada tempat, waktu dan kondisi serta konteks yang berbeda.



Mengacungkan jari telunjuk keatas yang menandakan angka satu memiliki makna "ahad" atau Esa saat ia diacungkan dalam pembahasan konteks akidah dalam islam. Namun, saat mengaitkannya pada konteks perpolitikan, maka ia akan berubah makna menjadi ekspresi keberpihakan pada calon pasangan capres tertentu.
Mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan membentuk huruf "V" secara universal dapat dipahami sebagai simbol "victory" yg sering diekpresikan untuk menjemput atau bahkan merayakan kemenangan pada momentum tertentu. Namun, saat simbol ini ditarik pada konteks politik, maka akan menimbulkan makna berbeda yakni afiliasi pada pasangan calon presiden tertentu.
Disini, tepatnya di Lampung, lokasi sasaran tempat kami bertugas pada program visiting GPAI Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, ada kebiasaan menarik bagi masyarakat dalam mengekpresikan rasa ta'assubiyah dan kecintaannya pada daerahnya, baik pada saat "poto bareng" maupun berswafoto yakni dengan mengacungkan jari telunjuk keatas dan jempol kesamping membentuk huruf "L" yg berarti Lampung.
Entah kapan tradisi dan kebiasaan ini bermula. Namun, terlihat sangat jelas bahwa warga sudah terlanjur sangat akrab dengan simbol ini. Hal ini tercermin dari antusiasme dan kebanggaan mereka dalam mengekspresikannya yang penuh penghayatan, termasuk hari ini ketika sesi perpotoan bersama dengan para peserta Bimtek Implementasi Kurikulum 2013.
Simbol "L" ini perlu dikemas dan dikapitalisasi secara maksimal oleh pemerintah Pesisir Barat agar dapat dikenal semakin luas. Hal ini dapat dijadikan semacam promosi wisata untuk mendukung tempat ini menjadi destinasi wisata kelas dunia, namun tentu dengan cara yg lebih beradab khas masyarakat melayu tanpa melupakan kearifan lokal setempat.

Menelusuri Jejak Sekolah Peninggalan Belanda di Pulau Pisang

Hari keempat pelaksanaan visiting kami agendakan dengan kegiatan ON pada pada salah satu sekolah terpencil dan terluar di Pesisir Barat untuk melihat pembelajaran PAI dan  segala problematikanya. Ada dua sekolah dasar yang kami kunjungi dan jadikan sebagai objek sasaran pada kegiatan ini, yakni SDN Labuhan Pulau Pisang dan SDN Pasar Pulau Pisang. Kedua sekolah ini terletak di Kecamatan Pulau Pisang, yang dapat ditempuh dengan perahu motor sekitar 15 menit perjalanan dari daratan pesisir barat.
Konon, orang pertama yang datang ke pulau ini menggunakan batang pisang sebagai kendaraan untuk menyeberangi lautan yang memisahkannya dari daratan di pesisir barat lampung. Sumber lain menuturkan bahwa ketika naik ke Menara pengintai (baca: mercusuar) dan memandangi sekeliling pulau yang memiliki luasan tak lebih dari 250 hektare ini akan nampak sangat jelas bentuk pulau yang menyerupai buah pisang. Inilah sekelumit gambaran asal muasal penamaan pulau ini dengan nama pulau pisang. Meskipun belum dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah berdasarkan literatur-literatur yang valid, namun informasi ini berkembang dimasyarakat secara turun-temurun dan telah dipercayai kebenarannya.


Bagi para pecinta wisata pantai, pulau yang berpenghuni lebih dari 1000 orang ini dapat dikatakan bagai kepingan surga. Pesona wisata pantai dipulau ini hampir sempurna. Garis pantai yang luas dengan bentangan pasir putih yang benar-benar putih dan halus berhiaskan air laut yang jernih membiru. Di sisi yang berbeda juga terdapat tebing-tebing karang dan batuan besar yang sangat menawan untuk dijadikan spot fotografi, membuat siapapun merasa nyaman dan betah untuk tinggal berlama-lama.
Disamping pesona pantainya yang unggul menawan, keramahan warga yang mendiami pulau ini juga adalah bonus tersendiri bagi para traveler yang berkunjung. Daya tarik lain dipulau ini juga akan ditemukan bangunan-bangunan tua khas masyarakat Lampung yang masih terjaga originalitasnya. Bangunan ini berbaris berjejer hampir disepanjang jalanan pulau yang dapat dikelilingi tak lebih dari 15 menit dengan
kendaraan sepeda motor.
Bangunan SDN Pasar Pulau Pisang yang menjadi salah satu lokasi sasaran visiting Tim Visitor Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI 2018 adalah salah satu bangunan tua di Pulau Pisang yang masih sangat terjaga originalitasnya. Sekolah kami ini adalah peninggalan pemerintah Hindia Belanda,
tutur
Pak Rozi, guru PAI di sekolah ini. Kebenaran informasi ini dapat dilihat dari struktur bangunan sekolah yang terbuat dari kayu dengan daun pintu yang tinggi, jendela jeruji dan dinding papan serta plapon dari anyaman bambu yang sangat genuine khas bangunan “zaman Belanda”, bahkan kode produksi dengan merk tan liok taghk Batavia di atap gentengnya memberikan bukti otentik bangunan ini sebagai warisan peninggalan jaman penjajahan yang harus dijaga keletariaannya dan dijadikan sebagai cagar budaya.
Menurut penjelasan Kepala Sekolah, bangunan ini berdiri pada tahun 1894. Sejak berdirinya, sekolah ini telah berganti nama sebanyak 4 kali. Pada masa awal berdirinya, sekolah ini adalah Sekolah Desa kemudian berganti nama menjadi Sekolah Rakyat lalu berganti lagi menjadi SDN 01 Pulau Pisang dan sejak tahun 1995 berganti nama menjadi SDN Pasar Pulau Pisang hingga sekarang.
Mengunjungi SDN Pasar Pulau Pisang memberi banyak arti. Sekolah ini memberi arti bahwa apapun yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, maka akan memberi dampak dan hasil yang luar biasa dan akan bertahan lama. Bangunan sekolah yg berumur seabad dan masih terlihat kokoh dan aman untuk ditempati tentu tidak dikerjakan secara abal-abal, sangat kontras dengan bangunan sekolah saat ini yang "terkesan" dibangun untuk direnovasi.
Keberlangsungan Proses pendidikan disekolah ini juga memberi kesan ketulusan para pendidik dalam mendidik para peserta didik meski penuh dengan keterbatasan. Tidak adanya akses jaringn listrik dan minimnya sarana dan prasarana, namun tidak menjadi alasan dalam menyediakan perangkat pembelajaran adalah contoh kecil. sangat kontras dengan sebagian guru dibeberapa tempat yang sering mengeluhkan keterbatasan padahal memiliki kondisi yang jauh lebih baik.
Anak-anak sekolah dipulau ini juga terlihat sangat polos, belum "tercekoki" efek-efek negatif dari peggunaan gadget layaknya anak-anak diperkotaan. Karakter anak-anak khas pedesaan yang keceriaannya benar-benar ceria, bukan keceriaan yang semu mengisyaratkan bagaimana pentingnya memberikan ruang dan waktu pada anak-anak untuk mengekpresikan keceriaannya sesuai dengan perkembangan usia mereka.
Kebijakan sekolah yang tetap bertahan menjaga originalitas bangunan sebagai salah satu cagar budaya dan dukungan guru-guru yang mendidik sepenuh hati walau dengan berbagai keterbatasan serta anak-anak didik yang terlihat sangat polos dan "nggak neko-neko" menjadi paket spesial dalam menjaga dan mengembangkan eksistensi sekolah ini dalam berbagai hal. semoga!!!


Dingin; antara mimpi dan menggapai asa.

Schedule Hari kelima program visiting GPAI kami isi dengan kegiatan pemberdayan dan sarasehan bersama Pengurus KKG PAI Kabupaten Pesisir Barat. Kegiatan ini kami agendakan sambal dalam konsep rihlah dalam suasana keakraban dan santai. Untuk itu, kami memilih Kebun Raya Liwa sebagai tempat pelaksanaannya, salah satu destinasi eko wisata di Lampung Barat.
Akses perjalanan menuju Kebun Raya Liwa adalah melewati taman nasional bukit barisan selatan, dimana kita akan disuguhi oleh pemandangan hutan belantara yg ditumbuhi pepohonan raksasa yang rimbun dan kebun pohon damar milik warga. Daerah ini memang terkenal sebagai penghasil getah damar terbaik didunia, damar mata kucing namanya.


Jangan melewati pegunungan Liwa jika tak berjaket, karena hawa dingin disini bisa terasa menusuk sampai ketulang. Udara dingin khas daerah pegunungan. Tinggal didaerah ini dapat meningkatkan produktivitas dalam berbagai hal termasuk produksi generasi keturunan. begitu candaku pada sesama tim visitor Dirjen Kemenag RI yang diamini oleh teman-teman pengurus KKG Kabupaten Pesisir Barat yang mendampingi perjalanan kami.
Dingin sangat identik dengan perasaan segar karena ia hadir bersama terbitnya sang fajar yang menandakan semangat pagi untuk menggapai asa, meningkatkan produktivitas kerja. Namun dingin juga bisa membuat orang terbuai rasa malas karena ia begitu menggoda tubuh dan mata untuk tetap bermimpi diatas pembaringan tanpa mewujudkannya lewat kerja nyata.
Dingin bagai dua sisi mata uang. Ia menawarkan semangat dan produktivitas dan juga godaan buaian lamunan mimpi. Anda yang memilihnya.
Ayo lanjutkan perjalanan untuk menggapai asa. ajakku kepada kawan tim visitor.
Beerrr, Liwa memang dingin.

Teman rasa saudara.

Namanya Samsi Sukardi, perawakannya biasa-biasa saja, khas perawakan pribumi, Indonesia banget. Namun, ada semacam getaran dari dalam hati saat pertama kali berjumpa dengan orang ini. Falling Love at the first sight.
Yah, saya seakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Ini bukan cerita tentang cinta sesama jenis (ihh, amit-amit dech), tapi ini tentang cinta sesama saudara. Cinta yang bersemi bukan hanya karena profesi yang sama, tapi jauh lebih dari itu, ini tentang cinta yang lahir dari perasaan yang tulus karena nilai persaudaraan.
Pak Samsi adalah orang yang menemani kami selama bertugas dipesisir barat. Tanpa pamrih, tanpa imbalan. Ia selalu ada buat kami saat kami butuh, bahkan saat ia baru "nyampe rumah" sekalipun Ia akan dengan tulus kembali datang ketempat kami saat kami menghubunginya.


Kami berkenalan sejak 3 hari yang lalu, tapi setiap jalan "bareng" bersamanya, rasanya bagai saudara, rasanya sudah berkenalan bertahun-tahun. Ngobrol dengan orang ini serasa "lepas banget", tidak ada yang ditutup-tutupi karena masing-masing merasa sudah sangat akrab.
Hari ini kami akan berpisah, ada perasaan sesak dalam dada yang sulit untuk diungkap lewat untaian kata. Seakan sulit memandang wajah polosnya ketika berpamitan. Kami berpelukan serasa enggan untuk saling melepaskan. Namun, hidup harus terus bergerak menggapai asa yang telah dipatri.
Raga kami mungkin terpisahkan oleh ruang dan waktu, namun jiwa kami telah disatukan oleh ikatan erat yang melebihi ruang dan waktu, ikatan ukhuwwah lillah.
صَدِیقُكَ مَنْ أبْکَاكَ لاَ مَنْ أَضْحَکَكَ.
Teman sejati adalah teman yang membuatmu menangis ketika hendak berpisah, bukan teman yang membuatmu tertawa ketika meninggalkannya. Samsi Sukardi telah mengajarakan kami arti dari sebuah ketulusan persaudaraan.


Menggapai asa lewat program visiting.

Lima hari sudah tugas visiting kami laksanakan. Meski singkat, namun banyak hal yang telah kami pelajari  dari pengalaman yang sangat berkesan dan berharga ini. Tugas utama untuk berbagi informasi dan sharing wawasan, menularkan keterampilan, pengalaman dan ilmu pengetahuan seputar Pendidikan Agama Islam  untuk kemajuan guru-guru PAI di wilayah sasaran, khususnya di Pesisir Barat ini telah kami tunaikan. Tentu masih banyak kekurangan dari pelaksanaan tugas ini mengingat waktu yang sangat singkat. Namun, antusiasme para guru PAI didaerah ini yang sangat haus akan tambahan wawasan dari para visitor menjadi semacam oase dalam fatamorgana.
Semangat para guru PAI di Pesisir Barat dalam mengikuti program kegiatan yang telah diagendakan oleh tim visitor tentu memberikan angin segar pada pengembangan Pendidkan Agama Islam dimasa yang akan datang. Semangat ini mengindikasikan bahwa setiap guru memiliki I’tikad yang kuat dalam mengembangkan potensi dan kompetensi yang dimilikinya tanpa mengenal jarak dan berbagai keterbatasan yang ada. Semangat ini harus terus dirawat bahkan ditingkatan sampai pada batasan maksimal dengan berbagai program pengembangan yang berkelanjutan sehingga tujuan mulia dari Pendidikan nasional dapat tercapai.

Program visiting GPAI ini adalah program yang sangat strategis dalam mendukung pemerintah pada upaya pemerataan wawasan dan kompetensi guru khususnya GPAI sampai pada wilayah-wilayah perbatasan. Bahkan guru-guru di wilayah perbatasan terlihat mendapatkan semacam patron dan teman curhat dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran mereka. Melalui program ini mereka seakan menumpahkan berbagai kesulitan kepada para tim visitor dan mendapatkan berbagai alternative solusi dari permasalahan-permasalahan seputar problematika Pendidikan Agama Islam yang mereka hadapi selama ini.
Banyak manfaat yang dihasilkan dari program visiting ini. Guru-guru diwilayah sasaran mendapat tambahan ilmu, wawasan, keterampilan dan informasi dari para visitor, sementara bagi visitor hal ini memberikan pengalaman baru dan berharga dalam melakukan pendampingan dengan rekan-rekan sesama profesi dari wilayah, kultur, budaya dan tradisi yang berbeda. Kegiatan semacam ini tentu harus mendapatkan dukungan dari semua stakeholder Pendidikan agar tetap dapat terlaksana pada masa-masa mendatang, bahkan jika memungkinkan harus lebih ditingkatkan terutama dalam hal durasi waktu pelaksanaannya agar dapat memberikan hasil yang lebih maksimal.

Menyiapkan keberangkatan Pulang

Hari Ahad malam, 3 Desember 2018 kami meninggalkan Kabupaten Pesisir Barat dengan berbagai kenangan dan pengalaman yang sangat berkesan. Pukul 03.27. kami tiba dibandara Raden Intan II Lampung setelah menempuh perjalanan selama 8 jam dari lokasi sasaran visiting. Yah, hari ini kami akan kembali begerak menuju Jakarta untuk mengikuti tahapan akhir kegiatan visiting yaitu evaluasi dan pelaporan pelaksanaan visiting.
Tidak ada siapapun disini. Sunyi...sepi...tak berpenghuni. Padahal, tempat ini adalah terminal keberangkatan dan kedatangan. Padahal, tempat ini adalah pintu menuju dan datang berbagai penjuru dunia. Padahal, Bandara adalah pusat keramaian.
Tapi disini, ditempat yang "seharusnya" ramai ini, nyatanya sepi. Tempat ini hanya dikunjungi oleh orang ketika hendak bepergian atau menjemput dan mengantar kerabat yang akan berangkat. Hanya ramai ketika menyiapkan keberangkatan.
Bandara memberi pelajaran hidup bahwa dibumi tempat kita berpijakpun mesti selalu diramaikan layaknya bandara, diisi dengan aktivitas-aktivitas yang membuat hidup lebih berarti untuk menyiapkan "keberangkatan" pada hidup yang selanjutnya.
Ayo berangkat!!!


*Penulis adalah Visitor asal Sulawesi Barat
Share This
Previous Post
Next Post

Pellentesque vitae lectus in mauris sollicitudin ornare sit amet eget ligula. Donec pharetra, arcu eu consectetur semper, est nulla sodales risus, vel efficitur orci justo quis tellus. Phasellus sit amet est pharetra

0 komentar: