 |
| Advertisement |
Bergerak
فَإِذَا
فَرَغْتَ فَانْصَبْ
"Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, maka tetaplah
bekerja keras utk urusan yang lainnya"
Bergerak adalah eksistensi kemanusiaan seorang
hamba sebagai makhluk
hidup. Ia dpt dikatakan sebagai manusia selama ia masih
bergerak dan ketika itu tidak terjadi lagi, maka sesungguhnya ia sama dengan mayat.
Bergerakpun harus dalam koridor, ketentuan dan kewajibannya
sebagai hamba Ilahi, karena bila bergeraknya bukan untuk tujuan itu, maka besar
kemungkinan eksistensinya sebagai manusia akan hilang bahkan terperosok jauh
melebihi nilai eksistensi hewan.
Bergerak dng tujuan dan cara yang baik harus
selalu beriringan dengan ikhtiar yg maksimal dan kepasrahan yang tulus
menyerahkan semua hasil kepada Yang Maha Penentu, sebab jika tidak demikian,
ketika hasil tak bersesuaian dengan angan dan harapan maka akan menimbulkan
rasa sakit yang tak berkesudahan.
وَ إِلَی رَبِّكَ
فَارْغَبْ.

Hari ini, tepatnya tanggal 28 November 2018 kami
bergerak menuju Lampung dalam rangka Program Visiting Guru Pendidikan Agama Islam ke Wilayah Perbatasan Negara yang merupakan
salah satu program strategis Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian
Agama Republik Indonesia yang telah dilaksanakan dari tahun ketahun. Pada tahun 2018, program ini
dilaksanakan pada tanggal 23 November sampai dengan 4 Desember 2018, yangmana
rangkaian kegiatannya terbagi dalam 3 agenda, yaitu; pembekalan peserta
Visiting, Pelaksananaan Visiting, serta Evaluasi dan Pelaporan.
Sebelum pelaksanaan visiting ini, kami para peserta visiting diberikan
pembekalan tentang mekanisme dan tahapan yang harus dilaksanakan pada saat
visiting. Kegiatan pembekalan ini berlangsung secara marathon selama 2 hari,
yaitu pada tanggal 26 dan 27 november 2018. Para peserta diberikan gambaran
umum tentang pelaksanaan visiting dan diberikan kesempatan untuk mengembangkan
kegiatan sesuai dengan kebutuhan guru-guru pada wilayah sasaran masing-masing
visitor.
Bergerak ini adalah sebagai
manifestasi wujud eksistensi kemanusiaan sebagai makhluk yang harus terus bergerak. Semoga tujuan
"bergerak" yg baik ini dpt kami laksanakan dengan cara yang baik
pula sesuai dengan ketentuan-ketentuan Ilahi. Akhirnya, hanya kepada Yang Maha Penentu kami
serahkan hasil ikhtiar bergerak ini, semoga berberkah. amin.
Semangat menggapai
Asa.
Melihat dan menyusuri jalanan dan suasana
daerah ini melambungkan ingatanku pada daerah tempat pengabdianku sepuluh tahun
silam. Banyak potensi local
terpendam yang belum dikapitalisasi secara maksimal, namun denyut pembangunan
infrastruktur terlihat dimana-mana menandakan ada semangat untuk maju mengejar
ketertinggalan dari daerah lain yang lebih dulu bergerak.
Kabupaten Pesisir Barat
Provinsi Lampung adalah daerah pemekaran baru sejak dua tahun silam. Ditempat
inilah kami diamanahkan untuk melaksanakan program visiting dalam rangka
silaturrahim dan sharing informasi seputar Pendidikan Agama Islam baik pada
masalah konten kurikulum, pembelajaran maupun penilaian dan pengembangan diri
bagi guru-guru Agama Islam di wilayah ini.





Kearifan local
masyarakat disini masih sangat mudah ditemui. Keramahan penduduk khas melayu seakan
menjadi suplemen tersendiri bagi kami dalam melakukan tugas visiting. Bahkan,
sepertinya hamper semua orang saling mengenal disini. Maka tak heran ketika bertanya
tentang orang tertentupada warga disini, hamper dipastikan akan sangat mudah
menemuinya. Suatu hal yang hampir “mustahil” ditemui dikota-kota besar dengan
kehidupan individualistisnya.
Sebagai daerah
pemekaran baru, tidak heran jika sarana dan prasarana masih sangat terbatas
disini. Semua instansi pemerintah masih berkantor dirumah-rumah penduduk yang
dibayarkan sewanya setiap tahun. Maka jangan heran kalau dapurpun disulap
menjadi ruang kerja untuk kepala seksi.
Keterbatasan yang ada
tidak membuat warga disini menjadi tidak lebih semangat, justru segala
keterbatasan ini membuat potensi yang dimiliki dapat dikerahkan secara lebih
maksimal. Disini, ada semangat, semangat untuk berbuat, bekerja memberikan yang
terbaik buat daerah yang sama dicinta.
Cium
tangan, tradisi yg terabaikan.
Percepatan penularan kebiasaan dan akhlak buruk
seseorng bagi rekan kerjanya jauh melebihi kecepatan
penularan virus kebaikan. Kebiasaan
buruk sangat rentan menjadi kebiasaan yang permanen sementara virus kebaikan biasanya
hanya bersifat temporer.
Ketika anda berkontribusi pd terciptanya
kebiasaan-kebiasaan buruk bagi lingkungan kerja anda maka insyaflah karena itu
berarti anda harus siap mmpertanggung jawabkan perilaku buruk orng lain yang
anda contohkan. Namun, ketika anda hadir menjadi angin penebar virus
kebaikan bagi orng lain, maka berbahagialah karena itu berarti anda akan ikut menuai kebaikan yang orng lain kerjakan.
28 Agustus 2018 adalah
hari kedua kami berada di Pesisir Barat. Hari ini kami tim
visiting GPAI Lampung berkunjung
ke Kantor Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan Kab. Pesisir Barat Prov.
Lampung. Kunjungan kami disambut dengan penuh keramahan dan suasana keakraban.
Kami tiba sbelum jam kantor dibuka dan ada pemandangan yang sangat brkesan
ketika para pegawai tiba dikantor dimana setiap orang memberi salam dan berjabat
salam pada setiap orang yang berada diruangan tanpa terkecuali termasuk para
pejabatnya, dimana yang muda berjabat salam sambil cium tangan pada yang lebih
sepuh. Sebuah tradisi khas melayu yg hampir punah ditempat-tempat tertentu.
Jabat tangan adalah budaya yang saat ini hanya dididikkan secara tekstual dan
dipraktekkan bagi anak didik. Yah, hanya bagi anak didik saja,
sementara orng dewasa hanya menganggapnya angin lalu. mungkin gengsi, mungkin malu, atau merasa terhina jika harus
berjabat tangan sambil mencium tangan orng yang lebih tua. Tapi disini, budaya itu hidup
selaras dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakat sampai pada instansi-instansi pemerintahan.
terlihat sangat genuine khas masyarakat
melayu.
Budaya ini harus terus dirawat bahkan dijadikan
semacam virus kebaikan hingga menyebar luas dan permanen didaerah-daerah lain
yang sudah semakin jauh dari nilai-nilai ketimuran.
Tentang
sebuah simbol
Salah satu cara yg dapat dilakukan untuk
mengekspresikan gagasan dan ide-ide adalah
dengan simbol, hal ini
dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, gambar
maupun gerakan atau benda tertentu.
Meskipun simbol bukan menjadi subtansi dari
nilai yang diwakilinya, namun ia butuh penghayatan dalam mengekpresikannya
sehingga nilai dan subtansinya daptt tersampaikan secara wajar.
Pemilihan simbol tertentu pasti memiliki makna
historis maupun filosofis. untuk itu, simbol yang sama baik dalam bentuk maupun
cara mengekspresikannya belum tentu memiliki nilai dan subtansi yang sama pada
tempat, waktu dan kondisi serta konteks yang berbeda.



Mengacungkan jari telunjuk keatas yang menandakan
angka satu memiliki makna "ahad" atau Esa saat ia diacungkan dalam
pembahasan konteks akidah dalam islam. Namun, saat mengaitkannya pada konteks
perpolitikan, maka ia akan berubah makna menjadi ekspresi keberpihakan pada calon
pasangan capres tertentu.
Mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah
secara bersamaan membentuk huruf "V" secara universal dapat dipahami
sebagai simbol "victory" yg sering diekpresikan untuk menjemput atau
bahkan merayakan kemenangan pada momentum tertentu. Namun, saat simbol ini
ditarik pada konteks politik, maka akan menimbulkan makna berbeda yakni
afiliasi pada pasangan calon presiden tertentu.
Disini, tepatnya di Lampung, lokasi sasaran
tempat kami bertugas pada program visiting GPAI Dirjen Pendidikan Islam
Kementerian Agama RI, ada kebiasaan menarik bagi masyarakat dalam
mengekpresikan rasa ta'assubiyah dan kecintaannya pada daerahnya, baik pada
saat "poto bareng" maupun berswafoto yakni dengan mengacungkan jari
telunjuk keatas dan jempol kesamping membentuk huruf "L" yg berarti
Lampung.
Entah kapan tradisi dan kebiasaan ini bermula.
Namun, terlihat sangat jelas bahwa warga sudah terlanjur sangat akrab dengan
simbol ini. Hal ini tercermin dari antusiasme dan kebanggaan mereka dalam
mengekspresikannya yang penuh penghayatan, termasuk hari ini ketika sesi
perpotoan bersama dengan para peserta Bimtek Implementasi Kurikulum 2013.
Simbol "L" ini perlu dikemas dan
dikapitalisasi secara maksimal oleh pemerintah Pesisir Barat agar dapat dikenal
semakin luas. Hal ini dapat dijadikan semacam promosi wisata untuk mendukung
tempat ini menjadi destinasi wisata kelas dunia, namun tentu dengan cara yg
lebih beradab khas masyarakat melayu tanpa melupakan kearifan lokal setempat.
Menelusuri
Jejak Sekolah Peninggalan Belanda di Pulau Pisang
Hari keempat pelaksanaan visiting kami
agendakan dengan kegiatan
ON pada pada salah satu sekolah terpencil dan terluar di Pesisir Barat untuk
melihat pembelajaran PAI dan segala problematikanya. Ada dua sekolah dasar yang
kami kunjungi dan jadikan sebagai objek sasaran pada kegiatan ini, yakni SDN
Labuhan Pulau Pisang dan SDN Pasar Pulau Pisang. Kedua sekolah ini terletak di
Kecamatan Pulau Pisang, yang dapat ditempuh dengan perahu motor sekitar 15
menit perjalanan dari daratan pesisir barat.
Konon, orang pertama yang datang ke pulau ini
menggunakan batang pisang sebagai kendaraan untuk menyeberangi lautan yang
memisahkannya dari daratan di pesisir barat lampung. Sumber lain menuturkan
bahwa ketika naik ke Menara pengintai (baca: mercusuar) dan memandangi
sekeliling pulau yang memiliki luasan tak lebih dari 250 hektare ini akan
nampak sangat jelas bentuk pulau yang menyerupai buah pisang. Inilah sekelumit
gambaran asal muasal penamaan pulau ini dengan nama pulau pisang. Meskipun
belum dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah berdasarkan
literatur-literatur yang valid, namun informasi ini berkembang dimasyarakat
secara turun-temurun dan telah dipercayai kebenarannya.


Bagi para pecinta wisata pantai, pulau yang
berpenghuni lebih dari 1000 orang ini dapat dikatakan bagai kepingan surga.
Pesona wisata pantai dipulau ini hampir sempurna. Garis pantai yang luas dengan
bentangan pasir putih yang benar-benar putih dan halus berhiaskan air laut yang
jernih membiru. Di sisi yang berbeda juga terdapat tebing-tebing karang dan
batuan besar yang sangat menawan untuk dijadikan spot fotografi, membuat
siapapun merasa nyaman dan betah untuk tinggal berlama-lama.
Disamping pesona pantainya yang unggul menawan,
keramahan warga yang mendiami pulau ini juga adalah bonus tersendiri bagi para
traveler yang berkunjung. Daya tarik lain dipulau ini juga akan ditemukan
bangunan-bangunan tua khas masyarakat Lampung yang masih terjaga
originalitasnya. Bangunan ini berbaris berjejer hampir disepanjang jalanan
pulau yang dapat dikelilingi tak lebih dari 15 menit dengan
kendaraan sepeda motor.
Bangunan SDN Pasar Pulau Pisang yang menjadi
salah satu lokasi sasaran visiting Tim Visitor Dirjen Pendidikan Islam
Kementerian Agama RI 2018 adalah salah satu bangunan tua di Pulau Pisang yang
masih sangat terjaga originalitasnya. Sekolah kami ini adalah peninggalan
pemerintah Hindia Belanda,
tutur Pak Rozi, guru PAI di sekolah ini. Kebenaran
informasi ini dapat dilihat dari struktur bangunan sekolah yang terbuat dari
kayu dengan daun pintu yang tinggi, jendela jeruji dan dinding papan serta
plapon dari anyaman bambu yang sangat genuine khas bangunan “zaman Belanda”,
bahkan kode produksi dengan merk tan liok taghk Batavia di atap
gentengnya memberikan bukti otentik bangunan ini sebagai warisan peninggalan
jaman penjajahan yang harus dijaga keletariaannya dan dijadikan sebagai cagar
budaya.
Menurut penjelasan Kepala Sekolah, bangunan ini
berdiri pada tahun 1894. Sejak berdirinya, sekolah ini telah berganti nama
sebanyak 4 kali. Pada masa awal berdirinya, sekolah ini adalah Sekolah Desa
kemudian berganti nama menjadi Sekolah Rakyat lalu berganti lagi menjadi SDN 01
Pulau Pisang dan sejak tahun 1995 berganti nama menjadi SDN Pasar Pulau Pisang
hingga sekarang.
Mengunjungi SDN Pasar Pulau Pisang memberi
banyak arti. Sekolah ini memberi arti bahwa apapun yang dikerjakan dengan
sungguh-sungguh, maka akan memberi dampak dan hasil yang luar biasa dan akan
bertahan lama. Bangunan sekolah yg berumur seabad dan masih terlihat kokoh dan
aman untuk ditempati tentu tidak dikerjakan secara abal-abal, sangat kontras
dengan bangunan sekolah saat ini yang "terkesan" dibangun untuk
direnovasi.
Keberlangsungan Proses pendidikan disekolah ini
juga memberi kesan ketulusan para pendidik dalam mendidik para peserta didik
meski penuh dengan keterbatasan. Tidak adanya akses jaringn listrik dan
minimnya sarana dan prasarana, namun tidak menjadi alasan dalam menyediakan
perangkat pembelajaran adalah contoh kecil. sangat kontras dengan sebagian guru
dibeberapa tempat yang sering mengeluhkan keterbatasan padahal memiliki kondisi
yang jauh lebih baik.
Anak-anak sekolah dipulau ini juga terlihat
sangat polos, belum "tercekoki" efek-efek negatif dari peggunaan
gadget layaknya anak-anak diperkotaan. Karakter anak-anak khas pedesaan yang
keceriaannya benar-benar ceria, bukan keceriaan yang semu mengisyaratkan
bagaimana pentingnya memberikan ruang dan waktu pada anak-anak untuk
mengekpresikan keceriaannya sesuai dengan perkembangan usia mereka.
Kebijakan sekolah yang tetap bertahan menjaga
originalitas bangunan sebagai salah satu cagar budaya dan dukungan guru-guru
yang mendidik sepenuh hati walau dengan berbagai keterbatasan serta anak-anak
didik yang terlihat sangat polos dan "nggak neko-neko" menjadi paket
spesial dalam menjaga dan mengembangkan eksistensi sekolah ini dalam berbagai
hal. semoga!!!
Dingin;
antara mimpi dan menggapai asa.
Schedule Hari kelima program visiting GPAI kami
isi dengan kegiatan pemberdayan dan sarasehan bersama Pengurus KKG PAI Kabupaten Pesisir Barat. Kegiatan ini kami agendakan sambal
dalam konsep rihlah dalam suasana keakraban dan santai. Untuk itu, kami memilih
Kebun Raya Liwa sebagai tempat pelaksanaannya, salah satu destinasi eko wisata
di Lampung Barat.
Akses perjalanan
menuju Kebun Raya Liwa adalah melewati taman nasional bukit barisan selatan, dimana kita akan disuguhi
oleh pemandangan hutan belantara yg ditumbuhi pepohonan raksasa yang rimbun dan
kebun pohon damar milik warga. Daerah ini memang terkenal sebagai penghasil
getah damar terbaik didunia, damar mata kucing namanya.


Jangan melewati pegunungan Liwa jika tak
berjaket, karena hawa dingin disini bisa terasa menusuk sampai ketulang. Udara
dingin khas daerah pegunungan. Tinggal didaerah ini dapat meningkatkan
produktivitas dalam berbagai hal termasuk produksi generasi keturunan. begitu
candaku pada sesama tim visitor Dirjen Kemenag RI yang diamini oleh teman-teman
pengurus KKG Kabupaten Pesisir Barat yang
mendampingi perjalanan kami.
Dingin sangat identik dengan perasaan segar
karena ia hadir bersama terbitnya sang fajar yang menandakan semangat pagi
untuk menggapai asa, meningkatkan produktivitas kerja. Namun dingin juga bisa membuat orang terbuai
rasa malas karena ia begitu menggoda tubuh dan mata untuk tetap bermimpi diatas pembaringan tanpa mewujudkannya lewat kerja nyata.
Dingin bagai dua sisi mata uang. Ia menawarkan
semangat dan produktivitas dan juga godaan buaian lamunan mimpi. Anda yang
memilihnya.
Ayo lanjutkan perjalanan untuk menggapai asa.
ajakku kepada kawan tim visitor.
Beerrr, Liwa memang dingin.
Teman
rasa saudara.
Namanya Samsi Sukardi, perawakannya biasa-biasa
saja, khas perawakan pribumi, Indonesia banget. Namun, ada semacam getaran dari
dalam hati saat pertama kali berjumpa dengan orang ini. Falling Love at the
first sight.
Yah, saya seakan jatuh cinta pada pandangan
pertama. Ini bukan cerita tentang cinta sesama jenis (ihh, amit-amit dech),
tapi ini tentang cinta sesama saudara. Cinta yang bersemi bukan hanya karena
profesi yang sama, tapi jauh lebih dari itu, ini tentang cinta yang lahir dari perasaan yang
tulus karena nilai persaudaraan.
Pak Samsi adalah orang yang menemani kami
selama bertugas dipesisir barat. Tanpa pamrih, tanpa imbalan. Ia selalu ada
buat kami saat kami butuh, bahkan saat ia baru "nyampe rumah"
sekalipun Ia akan dengan tulus kembali datang ketempat kami saat kami
menghubunginya.


Kami berkenalan sejak 3 hari yang lalu, tapi
setiap jalan "bareng" bersamanya, rasanya bagai saudara, rasanya
sudah berkenalan bertahun-tahun. Ngobrol dengan orang ini serasa "lepas
banget", tidak ada yang ditutup-tutupi karena masing-masing merasa sudah
sangat akrab.
Hari ini kami akan berpisah, ada perasaan sesak
dalam dada yang sulit untuk diungkap lewat untaian kata. Seakan sulit memandang
wajah polosnya ketika berpamitan. Kami berpelukan serasa enggan untuk saling
melepaskan. Namun, hidup harus terus bergerak menggapai asa yang telah dipatri.
Raga kami mungkin terpisahkan oleh ruang dan
waktu, namun jiwa kami telah disatukan oleh ikatan erat yang melebihi ruang dan
waktu, ikatan ukhuwwah lillah.
صَدِیقُكَ
مَنْ أبْکَاكَ لاَ مَنْ أَضْحَکَكَ.
“Teman
sejati adalah teman yang membuatmu menangis ketika hendak berpisah, bukan teman
yang membuatmu tertawa ketika meninggalkannya”. Samsi Sukardi telah
mengajarakan kami arti dari sebuah ketulusan persaudaraan.
Menggapai asa lewat program visiting.
Lima hari sudah tugas
visiting kami laksanakan. Meski singkat, namun banyak hal yang telah kami
pelajari dari pengalaman yang sangat
berkesan dan berharga ini. Tugas utama untuk berbagi informasi dan sharing
wawasan, menularkan keterampilan, pengalaman dan ilmu pengetahuan seputar
Pendidikan Agama Islam untuk kemajuan
guru-guru PAI di wilayah sasaran, khususnya di Pesisir Barat ini telah kami
tunaikan. Tentu masih banyak kekurangan dari pelaksanaan tugas ini mengingat
waktu yang sangat singkat. Namun, antusiasme para guru PAI didaerah ini yang
sangat haus akan tambahan wawasan dari para visitor menjadi semacam oase dalam
fatamorgana.
Semangat para guru PAI
di Pesisir Barat dalam mengikuti program kegiatan yang telah diagendakan oleh
tim visitor tentu memberikan angin segar pada pengembangan Pendidkan Agama
Islam dimasa yang akan datang. Semangat ini mengindikasikan bahwa setiap guru
memiliki I’tikad yang kuat dalam mengembangkan potensi dan kompetensi yang
dimilikinya tanpa mengenal jarak dan berbagai keterbatasan yang ada. Semangat
ini harus terus dirawat bahkan ditingkatan sampai pada batasan maksimal dengan
berbagai program pengembangan yang berkelanjutan sehingga tujuan mulia dari Pendidikan
nasional dapat tercapai.



Program visiting GPAI
ini adalah program yang sangat strategis dalam mendukung pemerintah pada upaya
pemerataan wawasan dan kompetensi guru khususnya GPAI sampai pada
wilayah-wilayah perbatasan. Bahkan guru-guru di wilayah perbatasan terlihat
mendapatkan semacam patron dan teman curhat dalam usaha meningkatkan kualitas
pembelajaran mereka. Melalui program ini mereka seakan menumpahkan berbagai
kesulitan kepada para tim visitor dan mendapatkan berbagai alternative solusi
dari permasalahan-permasalahan seputar problematika Pendidikan Agama Islam yang
mereka hadapi selama ini.
Banyak manfaat yang
dihasilkan dari program visiting ini. Guru-guru diwilayah sasaran mendapat
tambahan ilmu, wawasan, keterampilan dan informasi dari para visitor, sementara
bagi visitor hal ini memberikan pengalaman baru dan berharga dalam melakukan
pendampingan dengan rekan-rekan sesama profesi dari wilayah, kultur, budaya dan
tradisi yang berbeda. Kegiatan semacam ini tentu harus mendapatkan dukungan
dari semua stakeholder Pendidikan agar tetap dapat terlaksana pada masa-masa
mendatang, bahkan jika memungkinkan harus lebih ditingkatkan terutama dalam hal
durasi waktu pelaksanaannya agar dapat memberikan hasil yang lebih maksimal.
Menyiapkan keberangkatan Pulang
Hari Ahad malam, 3
Desember 2018 kami meninggalkan Kabupaten Pesisir Barat dengan berbagai
kenangan dan pengalaman yang sangat berkesan. Pukul 03.27. kami tiba dibandara Raden Intan II Lampung setelah
menempuh perjalanan selama 8 jam dari lokasi sasaran visiting. Yah, hari
ini kami akan kembali begerak menuju Jakarta untuk mengikuti tahapan akhir
kegiatan visiting yaitu
evaluasi dan pelaporan pelaksanaan
visiting.
Tidak ada siapapun disini. Sunyi...sepi...tak
berpenghuni. Padahal,
tempat ini adalah terminal keberangkatan dan kedatangan. Padahal, tempat ini adalah pintu menuju dan datang berbagai penjuru dunia. Padahal, Bandara adalah pusat
keramaian.
Tapi disini, ditempat yang "seharusnya" ramai ini,
nyatanya sepi. Tempat ini hanya dikunjungi oleh orang ketika hendak bepergian atau menjemput dan mengantar kerabat yang akan berangkat. Hanya
ramai ketika menyiapkan keberangkatan.
Bandara memberi pelajaran hidup bahwa dibumi
tempat kita berpijakpun mesti selalu diramaikan layaknya bandara, diisi dengan
aktivitas-aktivitas yang membuat hidup lebih berarti untuk menyiapkan
"keberangkatan" pada hidup yang selanjutnya.
Ayo berangkat!!!
*Penulis adalah Visitor asal
Sulawesi Barat
Share This
0 komentar: