![]() |
| Advertisement |
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN:
PENGERTIAN, HAKIKAT, CIRI-CIRI DAN TUJUAN.
Oleh : Arman B
I. Pendahuluan
Berbicara tentang belajar dan pembelajaran adalah berbicara tentang permasalahan yang tidak pernah berakhir. Hal ini berlangsung dalam seluruh tahap perkembangan kehidupan seseorang sepanjang hayatnya. Manusia tumbuh dan berkembang melalui proses belajar yang diikutinya baik secara sadar maupun tidak. Proses belajar ini bahkan sudah dimulai semenjak manusia belum berbentuk sebagai manusia, yaitu ketika manusia masih dalam bentuk spermatozoa yang berusaha untuk mempertahankan eksistensinya ditengah 200-600 juta spermatozoa lainnya yang berusaha untuk survive menembus ovum untuk kemudian menjadi cikal bakal manusia yang mendiami rahim.
Urgensi berlajar dan pembelajaran sebagai eksistensi kehidupan manusia sepanjang masa ini telah menghasilkan berbagai gagasan, ide dan teori yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Hal ini tentu saja bertujuan untuk idealisasi proses belajar dan pembelajaran dalam rangka memperoleh hasil yang optimal dalam pelaksanaannya. Namun, sebagian kalangan dunia pendidikan belum sepenuhnya tahu dan mengerti akan makna dari belajar dan pembelajaran itu sendiri. Bahkan, telah menjadi sebuah realitas yang tak terbantahkan, jika sebagian pendidik masih memaknai belajar dan pembelajaran hanya sebatas transformasi ilmu pengetahuan yang berorientasi pada hasil tanpa memperhatikan proses. Lalu, apa makna dari belajar dan pembelajaran itu sendiri?. Bertitik tolak dari permasalahan ini, penulis akan mencoba mengungkap gagasan-gagasan yang berkaitan dengan pengertian, hakikat, ciri-ciri, dan tujuan dari belajar dan pembelajaran.
II. Belajar dan pembelajaran
A. Pengertian belajar dan pembelajaran
1. Belajar
Secara sederhana, belajar berarti berusaha mengetahui sesuatu, berusaha memperoleh ilmu pengetahuan (kepandaian, keterampilan).[1] Belajar adalah sesuatu yang menarik karena sebagai makhluk individu dan makhluk sosial manusia selalu berusaha mengetahui sesuatu yang berada dalam lingkungannya untuk menunjukkan eksistensi kemanusiaannya.
Menurut Tjatjo Thaha,[2] Perkembangan manusia adalah hasil dari proses belajar yang pernah dialaminya. Oleh karena itu persoalan belajar adalah persoalan manusia sepanjang masa. Sejak manusia lahir, pada masa kanak-kanak mulai belajar untuk memperoleh pengalaman, seperti belajar merangkak, meniru kata-kata ibunya, dan lain sebagainya. Dia besar karena belajar, walaupun bertambah besarnya fisik seseorang itu dapat juga terjadi karena kematangan, namun pada prinsipnya manusia adalah makhluk belajar. Namun, menurut penulis, definisi ini kurang dapat diterima secara universal karena ternyata manusia itu sudah mulai belajar bahkan ketika masih berbentuk spermatozoa yang belajar berusaha untuk mempertahankan eksistensinya ditengah 200-600 juta spermatozoa lainnya yang berjuang untuk survive menembus ovum untuk kemudian menjadi cikal bakal manusia yang mendiami rahim. Banyak diantaranya yang gugur ditengah jalan dan uniknya hanya satu atau dua sperma yang berhasil finish mencapai ovum dan terjadi konsepsi, sementara yang lain mati dan menjadi nutrisi bagi ovum yang telah dibuahi. Berikut beberapa definisi lain tentang belajar.
Menurut Kimble sebagaimana yang dikutip oleh Hergenhahn dan Olson,[3] belajar adalah sebagai bentuk perubahan yang relatif permanen didalam behavioral potentiality (potensi behavioral) yang terjadi sebagai akibat reinforced practice (praktik yang diperkuat). Teori ini menyatakan bahwa ukuran dari proses belajar itu adalah perubahan perilaku, dengan kata lain bahwa setelah melewati proses belajar maka learner (pembelajar) harus menerjemahkan hasil belajarnya dengan perilaku yang berbeda saat ia belum belajar dengan perilaku baru yang dapat diamati. Perubahan ini hanya sementara dan tidak menetap serta tidak selalu terjadi secara langsung ketika proses belajar selesai. Perubahan ini berasal dari pengalaman yang harus diperkuat secara berulang-ulang. Dengan formulasi kalimat yang berbeda, Gredler menguraikan bahwa belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap. Teori ini menjelaskan bahwa proses belajar adalah usaha orang untuk mengetahui suatu kecakapan tertentu sehingga menjadikannya terampil dalam melakukannya yang pada akhirnya dapat merubah sikapnya dalam mengerjakan sesuatu.[4] Teori ini menitikberatkan pada perubahan sikap seseorang akan kecakapan dalam hal tertentu yang diakibatkan oleh proses belajar itu.
Berdasarkan teori diatas, secara umum belajar dapat diartikan sebagai suatu aktivitas atau proses memperoleh pengetahuan, keterampilan dan perubahan perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Perubahan prilaku ini ada yang nampak dan bisa diamati atau yang disebut behavioral performance (penampilan) dan adapula yang tidak bisa diamati yang disebut behavioral tendency (kecendrungan prilaku). Artinya seseorang dikatakan telah belajar, jika ia dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan sebelumnya. Tetapi tidak semua perubahan perilaku dapat dikategorikan sebagai hasil belajar, karena beberapa perubahan perilaku terjadi bukan karena proses belajar tetapi karena kematangan (maturation) atau hal-hal lain seperti kelelahan, penyakit, pengaruh alkohol dan lain sebagainya.
2. Pembelajaran
Belajar merupakan peningkatan dan perubahan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik kearah yang lebih baik sebelum belajar itu dilakukan. Keberhasilan belajar siswa merupakan akibat dari tindakan dari sebuah pembelajaran yang tidak lepas dari peran aktif guru dan siswa itu sendiri dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Pembelajaran pada dasarnya membahas pertanyaan tentang apa, siapa, mengapa, bagaimana, dan seberapa baik tentang pembelajaran itu sendiri. Apa berkaitan dengan isi atau materi pembelajaran, siapa berkaitan dengan guru dan siswa sebagai objek pembelajaran, mengapa berkaitan dengan alasan pelaksanaan pembelajaran, bagaimana berkaitan dengan cara pelaksanaan pembelajaran untuk hasil yang lebih baik yang meliputi bagaimana strategi, metode, dan tekhnik pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk belajar lebih baik, sementara seberapa baik berkaitan dengan penilaian proses pembelajaran, yaitu sejauh mana siswa belajar dan guru mengajar.
Menurut Miarso seperti yang dikutip Eveline Siregar dan Hartini Nara,[5] pembelajaran adalah usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses itu dilaksanakan, serta pelaksanaannya terkendali. Dilain pihak, dalam teori yang berbeda namun dengan pemaknaan yang senada dikatakan bahwa pembelajaran adalah sebuah proses yang kompleks (rumit), namun dengan maksud yang sama, yaitu memberi pengalaman belajar kepada siswa sesuai dengan tujuan yang telah dicanangkan sebelumnya yang merupakan acuan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran.[6]
Proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan formal yang melibatkan tiga komponen vital dalam pembelajaran, yaitu guru, siswa dan isi atau materi pembelajaran yang harus berjalan secara sinergis. Sedangkan hal terpenting dari proses pembelajaran itu sendiri adalah terjadinya proses belajar (learning process). Hal ini sesuai dengan teori yang mengutarakan bahwa pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar.[7] Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pembelajaran adalah usaha sadar yang dilakukan secara terorganisir, terarah dan terencana sebelum proses dilaksanakan dengan melibatkan komponen-komponen pembelajaran secara bersinergi dan dengan target-target tertentu yang menjadi tujuan pembelajaran yang dapat membuat siswa belajar dengan sendiri. Adapun sadar secara sederhana berarti merasa tahu dan mengerti.[8] Sedangkan sadar dalam konteks belajar adalah sebuah kondisi dimana peserta didik tahu dan merasa bahwa dirinya sedang belajar sehingga menimbulkan motivasi-motivasi untuk memiliki pengetahuan yang diharapkan yang pada gilirannya tahapan-tahapan dalam belajar sampai pengetahuan itu dimiliki secara permanen (retensi) betul-betul disadari sepenuhnya.[9]
B. Hakikat belajar dan pembelajaran
Istilah “belajar” dan “pembelajaran” pada hakikatnya adalah dua istilah yang saling melengkapi, sehingga bisa saja digunakan istilah ”belajar pembelajaran” tanpa diantarai dengan kata penghubung ”dan”. Belajar, merupakan suatu aktivitas atau proses memperoleh pengetahuan, keterampilan dan perubahan perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungannya, sedangkan pembelajaran, adalah memanage dan mengorganisir serta mengoptimalkan segala sumber daya belajar yang dimiliki yang dapat menghasilkan suatu proses belajar sehingga tujuan yang telah dicanangkan sebelumnya dapat tercapai secara optimal.
Dalam pandangan Slameto,[10] belajar adalah sebuah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman yang dialaminya sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam uraian yang senada dengan komposisi kalimat yang berbeda, Hilgard & Bower mengemukakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disesabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang.[11]
Dalam belajar, yang terpenting adalah proses yang terjadi bukan hasil yang diperoleh. Artinya, bahwa hasil perubahan perilaku dari belajar itu harus dilakukan dari usaha sendiri, adapun orang lain yang terlibat hanyalah sebagai perantara atau penunjang dalam kegiatan belajar agar belajar itu dapat berhasil dengan baik.[12] Ketika seorang anak juara lomba memasak tetapi dilakukan dengan praktek kecurangan, maka ini tidak dapat dikatakan sebagai belajar karena hasil dari belajar haruslah perubahan perilaku kearah yang lebih konstruktif. Lebih jauh, Umar Shihab,[13] menguraikan bahwa dasar pemikiran yang menggambarkan harapan atau tujuan dari setiap bentuk dari belajar tersebut mestilah sejalan dengan tujuan Al-qur’an, yakni mengadakan perubahan-perubahan postif dalam masyarakat. Hal ini sesuai dengan gambaran Al-qur’an dalam surah Ibrahim ayat 1:
اَلــر.Ùƒِـــتَابٌ Ø£َÙ†ْزَلـْـــنَاهُ Ø¥ِÙ„َÙŠْــــكَ Ù„ِتُØ®ْــــــرِجَ الـــــنَّاسَ Ù…ِÙ†َ الظُّلــُــــمَاتِ Ø¥ِÙ„َÙ‰ النُّـــوْرِ بِØ¥ِذْÙ†ِ رَبِّÙ‡ِـــمْ Ø¥ِÙ„َÙ‰ صِــرَاطِ الْعَـــزِÙŠْــزِالْØَÙ…ِيـــــدِ.
Terjemah:
“Alif, \La>m Ra>. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”[14]
Pada hakekatnya, belajar adalah segala proses atau usaha yang dilakukan secara sadar, sengaja, aktif, sistematis dan integratif untuk menciptakan perubahan-perubahan dalam diri seorang pembelajar menuju arah kesempurnaan hidup. Secara garis besar, proses belajar melewati tiga tahapan pokok, yaitu adanya rangsangan, lahirnya perilaku positif konstruktif dan adanya penguatan. Dengan demikian, seseorang dapat dikatakan telah belajar ketika telah terjadi perubahan tingkah laku dalam dirinya. Adapun hakikat pembelajaran, merupakan proses yang kompleks (rumit), namun keanekaragaman prosesnya memberikan pengalaman belajar kepada siswa sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai sebenarnya yang merupakan acuan dalam penyelenggaraan proses pembelajaran itu sendiri.[15] Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa hakekat pembelajaran adalah bagaimana menghasilkan belajar, yaitu bagaimana menciptakan, mengefektifkan dan merancang sedemikian rupa situasi belajar bagi siswa sehingga menghasilkan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah dicanangkan.
C. Ciri-ciri belajar dan pembelajaran
1. Ciri-ciri belajar
Menurut teori kognitif, ciri-ciri belajar adalah sebagai berikut:
1. Mementingkan apa yang ada pada diri sipelajar.
2. Mementingkan keseluruhan (holistik).
3. Mementingkan peranan fungsi kognitif.
4. Mementingkan keseimbangan dalam diri.
5. Mementingkan kondisi pada waktu sekarang.
6. Mementingkan pembentukan struktur kognitif.
7. Pemecahan masalah dilakukan berdasar “insight”.[16]
Dalam rumusan yang berbeda, Siregar dan Nara,[17] menguraikan ciri-ciri belajar sebagai berikut:
1. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku tersebut bersifat kognitif (pengetahuan), psikomotor (keterampilan), maupun afektif (nilai dan sikap).
2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja, tetapi menetap dan dapat disimpan.
3. Perubahan terjadi karena adanya usaha dan akibat dari interkasi dengan lingkungan.
4. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik atau kedewasaan, kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.
Dalam pandangan penulis, perubahan perilaku menjadi kata kunci dari proses belajar. Perubahan ini dapat dikatakan sebagai hasil dari belajar jika memenuhi beberapa ciri yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
Pertama, belajar sifatnya disadari, dalam hal ini peserta didik tahu dan merasa bahwa dirinya sedang belajar. Dengan begitu, timbul motivasi untuk memiliki pengetahuan yang diharapkan sehingga dengan tahapan-tahapan yang dilaluinya sampai pengetahuan itu dimiliki secara permanen (retensi) betul-betul disadarinya. Kedua, hasil belajar diperoleh dengan adanya proses, dalam hal ini pengetahuan diperoleh tidak secara spontanitas, instan, namun bertahap (sequensal). Seorang programmer handal, tentunya tidak diperoleh dalam waktu sesaat tetapi bertahap, yang diawali dengan belajar memegang mouse, mengetik, mengetahui algoritma, pemrograman dan lain sebagainya.
Ketiga, belajar membutuhkan interaksi, khususnya interaksi yang bersifat manusiawi. Seorang siswa akan lebih cepat memahami sesuatu dengan berinteraksi pada lingkungan dan bantuan dari guru. Dalam hal ini, akan terjadi komunikasi dua arah antara guru dan peserta didik atau sebaliknya.
Keempat, perubahan dari hasil belajar mencakup seluruh aspek tingkah laku, bukan bagian-bagian tertentu secara parsial.
2. Ciri-ciri pembelajaran
Ciri-ciri pembelajaran dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Memiliki tujuan.
b. Terdapat mekanisme, prosedur, langkah-langkah, metode dan tekhnik yang direncanakan dan didesain untuk mencapai tujuan.
c. Focus materi jelas, terarah dan terencana dengan baik.
d. Adanya aktivitas anak didik yang merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
e. Actor guru yang cermat dan tepat
f. Terdapat pola aturan yang ditaati guru dan siswa dalam proporsi masing-masing.
g. Limit waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
h. Evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi produk.[18]
Dari rumusan diatas, ciri pembelajaran dapat dikelompok menjadi empat komponen besar yaitu:
Pertama, pembelajaran merupakan upaya sadar dan disengaja dilaksanakan untuk mendapatkan proses belajar yang lebih baik.
Kedua, pembelajaran harus dapat membuat siswa belajar. Proses belajar ini dapat berlangsung dengan mengaktifkan keterlibatan siswa, sehingga tanpa kehadiran gurupun siswa tetap dapat belajar.
Ketiga, tujuan ditetapkan terlebih dahulu sebelum pelaksanaan proses. Tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan menjadikan proses belajar dapat berjalan sesuai rencana dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada.
Keempat, pelaksanaannya terkendali, baik isi atau materi, waktu, proses maupun hasilnya sehingga memungkinkan untuk dilakukan evaluasi.
D. Tujuan belajar dan pembelajaran
1. Tujuan belajar
Tujuan merupakan suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan tertentu. Tidak ada suatu kegiatanpun yang dilaksanakan tanpa adanya tujuan. Demikian halnya dengan belajar, tentu memiliki tujuan. Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa. Tujuan belajar ini merupakan suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar.[19] Tujuan belajar merupakan cara yang akurat untuk menentukan hasil pembelajaran. Pada hakekatnya, tujuan pembelajaran (instructional goals) dan tujuan belajar (learning objectives) itu berbeda, namun berhubungan erat antara satu dengan yang lainnya.
Belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, tidak harus dalam kondisi formal dalam kelas, tetapi dapat secara informal, dan nonformal. Siswa dapat belajar dari alam sekitar atau dari peristiwa sehari-hari. Oleh karena itu pada hakikatnya belajar bertujuan untuk memperoleh hikmah belajar (lesson learned). Hikmah pembelajaran didefinisikan sebagai pengetahuan atau pemahaman yang diperoleh melalui pengalaman yang dikembangkan melalui saling berbagi, sehingga memberikan keuntungan bagi yang lain. Dalam kaitan mendapatkan hikmah itu ada tahapan yang harus dilalaui oleh siswa yang terdiri dari (1). learn (belajar). (2). Unlearn, yaitu mencoba melupakan suatu ingatan atau pengetahuan yang semula dipelajari seperti kebiasaan lama, dan tidak perlu lagi memikirkannya, biarlah yang lalu tetap berlalu, lets bygones be bygones. (3). Relearn, yaitu mempelajari kembali, seperti halnya telah lupa atau mengabaikannya.[20]
2. Tujuan pembelajaran
Pembelajaran yang baik sudah tentu harus memiliki tujuan yang baik pula. Banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan dalam perumusan tujuan pembelajaran. Semua hal tersebut dilakukan untuk menuju kondisi ideal dalam pembelajaran. Guru yang professional dituntut harus mampu merumuskan dan mewujudkan atau paling tidak mendekati praktik pembelajaran yang ideal. Tujuan pembelajarn yang ideal adalah agar peserta didik mampu mewujudkan perilaku belajar yang efektuf.[21] Dalam komposisi kalimat berbeda, Robert F. Mager mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh peserta didik pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu setelah melewati proses belajar. [22] Lebih lanjut, Kemp dan David E. Kapel, menyatakan bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis. [23] Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan).
Dari definisi tersebut penulis berkesimpulan bahwa tujuan pembelajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku (performance) siswa yang diharapkan terjadi setelah melewati proses belajar. Tujuan ini menunjukkan hasil yang diharapkan, bukan sekedar proses yang berlangsung dan merupakan deskripsi nyata dan terarah yang tertuang dalam tulisan. Tujuan itu sendiri bersifat deduktif, yakni dari jenjang terluas sampai pada yang paling sempit dan setiap poin memiliki hubungan yang jelas karena apabila tujuan terendah tidak tercapai maka tujuan diatasnya tidak tercapai pula, karena tujuan berikutnya merupakan turunan dari tujuan sebelumnya. Yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata ajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dan dikembangkan serta diapresiasi. Berdasarkan mata ajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pembelajaran yang diinginkan. Guru sendiri adalah sumber utama tujuan bagi para siswa, dan dia harus mampu menulis dan memilih tujuan-tujuan pembelajaran yang bermakna, dan dapat terukur.
III. Kesimpulan
Belajar dan pembelajaran merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan yang merupakan rangkaian aktivitas dan proses yang dialami siswa yang berorientasi pada perubahan perilaku secara menetap dalam dirinya. Keberhasilan dari proses belajar itu sendiri ditentukan oleh pelaksanaan proses pembelajaran secara terorganisir dan terarah sebelum proses belajar itu dilaksanakan yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan sendirinya. Belajar pada hakikatnya dapat dilihat pada perubahan perilaku setelah mengalami proses belajar sementara pembelajaran pada hakikatnya ialah bagaimana menghasilkan situasi belajar, yaitu bagaimana menciptakan, mengefektifkan dan merancang sedemikian rupa situasi belajar bagi siswa sehingga menghasilkan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah dicanangkan.
Ciri-ciri belajar ialah kesadaran seorang pembelajar akan situasi belajar yang dihadapinya yang memungkinkannya melewati proses belajar secara bertahap melalui interaksi dengan lingkungan yang menimbulkan perubahan perilaku secara menyeluruh dalam dirinya. Sementara ciri pembelajaran adalah keterlibatan siswa secara aktif dan sadar dalam melakukan proses belajar yang dihadapi dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada dan dilaksanakan secara terkendali dan terorganisir demi mencapai tujuan yang telah dicanangkan.
Tujuan belajar merupakan suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan dicapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar. Tujuan ini merupakan cara yang akurat untuk menentukan hasil pembelajaran. Sementara tujuan pembelajaran dapat dilihat dari penampilan perilaku siswa setelah melewati proses belajar dan merupakan deskripsi nyata dan terarah yang tertuang dalam tulisan dengan mempertimbangkan kebutuhan komponen-komponen yang terlibat dalam pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Fathurrohman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno. Strategi Belajar Mengajar: Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami. Bandung: PT Refika Aditama, 2010.
Gredler, Margaret E. Bell, Belajar dan Membelajarkan. Diterjemahkan oleh Munandir. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1994.
Hergenhahn, B.R. & Matthew H. Olson. Theories Of Learning (Teori Belajar). Dialihbahasakan oleh Tri Wibowo B.S.. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010.
Makmun, Abin Syamsuddin. Psikologi Pendidikan: Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009.
Siregar, Eveline dan Hartini Nara. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia, 2010.
Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003.
Sudrajat, Akhmad. “Tujuan Pembelajaran sebagai Komponen Penting dalam Pembelajaran,” 30 September 2009, http://akhmadsudrajat. wordpress.com/2009/08/30/tujuan-pembelajaran-sebagai-komponen- penting-dalam-pembelajaran/ (diakses 4 mei 2012)
Sumiati dan Asra. Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima, 2009.
Susilana, Rudi dan Cepi Riyana. Media Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima, 2009.
Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011.
Syihab, Umar. Alquran dan Rekayasa Sosial. Ujung Pandang: Kab’tan, 1989.
Thaha, Tjatjo. Bimbingan & Konseling dan Belajar & Pembelajaran Di Perguruan Tinggi. Palu: Untad Press, 2003.
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Ilmu Pendidikan Teoretis. Bagian I. Bandung: PT. Imtima, 2009.
Tim Redaksi Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.
Uno, Hamzah B., Model Pembelajaran. Diedit oleh Fatna Yustianti. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
[1] Tim Redaksi Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 28.
[2] Tjatjo Thaha, Bimbingan & konseling dan belajar & pembelajaran di Perguruan Tinggi (Palu: Untad Press, 2003), 171-172.
[3] B.R. Hergenhahn and Matthew H. Olson, Theories Of Learning (Teori Belajar) (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), 2.
[4] Margaret E. Bell Gredler, Belajar dan Membelajarkan (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994), 1.
[5] Eveline Siregar dan Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), 12.
[6] Sumiati dan Asra, Metode Pembelajaran (Bandung: CV Wacana Prima, 2009), 3.
[7] Rudi Susilana dan Cepi Riyana, Media Pembelajaran (Bandung: Wacana Prima, 2009), 1.
[8] Tim Redaksi Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 1240.
[9] Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islam (Bandung: PT Refika Aditama, 2010), 1.
[10] Slameto, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), 2.
[11] Fathurrohman dan Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, 6.
[12] Ibid, 6.
[13] Umar Syihab, Alquran dan Rekayasa Sosial (Ujung Pandang: Kab’tan, 1989), 95.
[14] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: CV. Naladana, 2004), 345.
[15] Sumiati dan Asra, Metode Pembelajaran, 3.
[16] Thaha, Bimbingan dan Konseling, 186
[17] Siregar dan Nara, Teori Belajar, 5.
[18] Fathurrohman dan Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, 11.
[19] Ibid, 13.
[20] Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran, 15.
[21] Ibid, 15.
[22] Akhmad Sudrajat, “Tujuan Pembelajaran sebagai Komponen Penting dalam Pembelajaran,” 30 September 2009, http://akhmadsudrajat.wordpress.com/ 2009/08/30/ tujuan-pembelajaran-sebagai-komponen-penting-dalam-pembelajaran/ (diakses 4 mei 2012)
[23] Ibid.

0 komentar: