![]() |
| Advertisement |
BANI ‘ABBA<S:
DINASTI KECIL DI BARAT DAN TIMUR
Oleh : Arman
B.
I. Pendahuluan
Kondisi internal
dinasti Bani Umayyah dengan kelemahan klasik, khas kehidupan sosial orang Arab
yang terlalu menekankan individualisme, semangat kesukuan dan pertikaian pada
periode akhir, mengarahkan dinasti ini pada kelemahan yang secara eksternal
membuka ruang menganga pada lawan politiknya untuk menumbangkan dinasti yang
sudah sekarat ini. Gerakan revolusioner koalisi ‘Alawiyyi>n, ‘Abba>siyyah dan
keturunan bangsa Persia, yang berpusat di Khurasan dibawah komando Abu> al-‘Abba>s akhirnya
berhasil memberikan pukulan telak dengan terbunuhnya khalifah terakhir Umayyah
pada pertempuran di sungai Zab.
Abu> al-‘Abba>s al-Saffa>h diangkat
sebagai khalifah pertama dawlah ‘Abba>siyyah yang menandai
tergantikannya aristokrasi Arab murni dengan hirarki pejabat yang dipilih dari
beragam bangsa dengan melakukan koalisi. Arabisme runtuh, namun kekuasaan Islam
terus berlanjut dibawah bendera Islam internasional yang multikulturalis. Dawlah
ini kemudian berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai
pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani
dan Persia. Namun, keluasan wilayah yang tidak diimbangi dengan upaya komunikasi yang
intens antara pusat dan daerah serta kebijaksanaan
yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada
persoalan politik yang diperparah kemewahan lifestyle dan kelemahan para khalifah dan faktor lainnya
menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin. Komplikasi penyakit ini menyebabkan
terjadinya disintegrasi sehingga
provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman.
Kemunculan
dinasti-dinasti baik dibarat dan timur yang dalam istilah Hitti, bagai
cendawan dimusim hujan, tampak sebagai gejala penyakit yang menjadikan si sakit
telah berada diranjang kematiannya ketika perampok datang mendobrak
pintu dan segera mengambil jatah dari warisan imperium. Lalu, bagaimana sejarah
kemunculan dinasti-dinasti baik di barat maupun timur pada masa dawlah ‘Abba>siyyah?.
Makalah ini akan memberikan ulasan secara singkat tentang kemunculan dawlah ‘Abba>siyyah,
masa kejayaan dan kemundurannya serta kemunculan dinasti-dinasti baik di barat
maupun di timur Baghdad.
II. Bani
Abbas
Sejarah merupakan bagian
penting dari perjalanan sebuah umat, bangsa, negara, maupun individu.
Keberadaan sejarah merupakan bagian dari proses kehidupan itu sendiri. Melalui
sejarah, manusia dapat mengambil banyak pelajaran dari proses kehidupan suatu
umat, bangsa atau individu.[1] Untuk
tidak memutuskan benang merah dari sejarah dinasti yang berkuasa sebelumnya,
maka sebelum mengulas lebih jauh tentang dawlah ‘Abba>siyyah, penulis akan
menguraikan secara singkat tentang sejarah berdirinya dinasti ini, dan silang
sengkarut penuh lika-liku pergantian kekuasaan yang melibatkan dua dinasti
besar ini.
A. Berdirinya
Dinasti ‘Abba>siyyah
Bani ‘Abba>s atau dawlah
‘Abba>siyyah merupakan nama yang dinisbatkan kepada para pendiri dan
penguasa dinasti ini yang merupakan keturunan al-‘Abba>s, paman Nabi
Muhammad saw.[2]
Bani ‘Abba>s mewarisi imperium besar dari Bani Umayyah yang memungkinkan
mereka mencapai hasil yang lebih besar karena landasan yang telah dibangun oleh
pendahulu mereka. Prestasi luar biasa Bani Umayyah yang dapat menaklukkan
wilayah-wilayah kerajaan Romawi dan Persia segera disusul dengan prestasi yang
jauh lebih hebat dalam penaklukan bidang ilmu pengetahuan pada abad berikutnya.[3] Penggantian
ini dalam kepemimpinan masyarakat Islam lebih dari sekedar pergantian dinasti, tetapi
juga merupakan suatu revolusi dalam sejarah Islam yang terjadi bukan hanya
sebagai akibat komplotan istana atau perebutan kekuasaan tetapi lebih daripada
itu, juga sebagai hasil propaganda dan organisasi yang apik nan luas dan
revolusioner, yang mencerminkan ketidakpuasan unsur-unsur dikalangan penduduk
terhadap rezim-rezim terdahulu dan menumpuk dalam jangka waktu yang panjang
sehingga membentuk gerakan koalisi dari unsur-unsur yang berbeda, yang bersatu atas
dasar keinginan dan kepentingan yang sama yaitu merobohkan tatanan yang ada.[4]
‘Abba>siyyah menunggang
gelombang simpati rakyat melawan bani Umayyah. Mereka memaklumkan diri mereka
sebagai kerajaan islam yang berbeda dari dinasti Arab Bani Umayyah. Mereka
melihat diri mereka sendiri sebagai imam, penerus suci tradisi islam, yang
terbakar oleh keinginan untuk membela Ali dan keturunannya. Hitam warna
kematian dan perkabungan, untuk Ali dan keluarganya diasosiasikan dengan
‘Abba>siyyah dan dipanggil, sebagaimana di Cina, ’orang yang berjubah
hitam’.[5]
Jatuhnya dinasti Umayyah menandai kejayaan dan hegemoni Suriah yang telah
berakhir dengan berpindahnya pusat gravitasi Islam ke timur.
Babak baru dalam drama (kalau
bukan sinetron) besar politik Islam di awali dengan peran penting yang
dimainkan oleh khaliah Abu> al-‘Abba>s (750-754), dan Irak menjadi panggung
(layar dalam sinetron) bagi drama besar itu.[6] Abu>
al-‘Abba>s diumumkan sebagai khalifah pertama di mesjid Kufah pada tahun 750
M.[7] Dalam
pidato penobatannya yang disampaikan setahun sebelumnya, ia menyebut dirinya
sebagai al-Saffa>h[8]
(penumpah darah), yang kemudian menjadi julukannya. Hal ini mengisyaratkan
bahwa dawlah ini lebih mengutamakan kekuasaan dalam menjalankan kebijakannya,
dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, disisi singgasana khalifah
tergelar karpet yang digunakan sebagai tempat eksekusi. Al-Saffa>h menjadi
pendiri dinasti Arab Islam ketiga setelah Khulafa> al-Ra>syidu>n dan
Dinasti Umayyah, lalu kemudian penerusnya memegang pemerintahan setelahnya
meskipun tidak selalu berkuasa selama lima abad dari tahun 750 M hingga 1258 M.[9] Selama
dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai
dengan perubahan politik, sosial dan budaya yang belum mendapatkan
stabilitasnya.
Pada umumnya, langkah pertama
yang ditempuh oleh sebuah rezim baru adalah pembentukan ibukota baru
sebagaimana yang dilakukan oleh rezim-rezim Timur Tengah sejak zaman kuno
dengan membangun kota-kota baru sebagai markas besar militer dan staf
administrasi untuk melambangkan datangnya sebuah tata pemerintahan baru.[10] Pada
tahun 762 M., khalifah al-Manshu>r yang menggantikan al-Shaffa>h
membangun kediaman di Hasimia, antara kufah dan Hirah, lalu kemudian
memindahkan ibukota negara ke kota yang baru dibangunnya yaitu Baghdad,[11] tempat
lahirnya sebuah kisah petualangan yang legendaris yang dikisahkan dalam kisah Seribu
Satu Malam.
Kota Baghdad dipilih oleh
al-Manshu>r sebagai ibukota dengan pertimbangan bahwa tempat tersebut
merupakan tempat yang sangat strategis sebagai markas militer, selain itu
karena kawasan ini dilintasi oleh sungai Tigris yang memungkinnya untuk dapat
berhubungan dengan Cina, mengeruk hasil laut dan hasil makanan dari Mesopotamia
dan sekitarnya. Kota ini dibangun selama empat tahun dengan menghabiskan biaya
4.883.000 dirham dan mempekerjakan lebih dari seratus ribu arsitek, pengrajin
dan buruh.[12]
Jalan-jalan yang mulus memusat ke Baghdad dari semua jurusan dan dapat
dikatakan bahwa kota ini adalah tempat yang sangat cocok bagi segala kebutuhan
kemaharajaan ‘Abba>siyyah. Pada tahun 762 M., al-Manshu>r menempati kota
ini yang dirancang sebagai tempat yang aman bagi pusat pemerintahan khalifah,
pejabat-pejabatnya, pasukannya dan lain sebagainya. Diluar kota segera muncul
daerah niaga dan akhirnya keseluruhannya menjadi kota yang sangat besar pada
zamannya. Nama resminya adalah Madi>nah al-Sala>m, Kota
Perdamaian.[13]
Baghdad kemudian berkembang pesat melampaui maksud-maksud pendirinya dan
bertumbuh dari hanya sebagai sebuah pusat militer dan administratif menjadi
kota besar. Baghdad bukan hanya pusat kota, tetapi juga sebagai pusat
metropolitan yang kosmopolitan karena keragaman penduduknya.
Kebesaran Baghdad merupakan
prestasi tidak tertandingi yang menunjukkan pentingnya kota ini dalam
pembentukan dawlah ‘Abba>siyyah. Sebagai pusat kegiatan ekonomi,. Baghdad
tumbuh menjadi kota perdagangan internasional dan sangat produktif dengan
sejumlah industri penghasil tekstil, sutra, kertas dan lainnya. Baghdad kemudian
menjadi kota terbesar dunia selain Cina.[14]
B. Kekhalifahan
Dawlah ‘Abba>siyyah
Khalifah
‘Abba>siyyah pertama, al-Shaffa>h yang menjadi kepala keluarga ‘Abba>siyyah
pada saat gerakan merampas kekuasaan dinasti Bani Umayyah, menetapkan pola
‘Abba>si> terutama dalam artian bahwa ia memenggal tanpa pandang bulu,
dengan sangat kejam dan kebrutalan yang sangat kasar sebanyak mungkin anggota
keluarga Umayyah yang ia dapat tangani.[15]
Tabiat ini tergambar dalam jamuan makan malam yang ia atur untuk saingannya
dari Bani Umayyah. Jendral ’Abbasiyyah, Abdullah, mengundang 80 pemimpin
Umayyah untuk menghadiri makan malam pada bulan juni 750, dirumahnya dekat
Jaffa. Ketika para tamu duduk untuk makan mereka diserang oleh tentara. Setelah
pembantaian itu, para pelayan membentangkan karpet diatas tubuh mereka yang
sekarat, menggeliat, dan para tamu terus makan dan berpesta. Bahkan yang sudah
mati dan dikuburpun tidak lepas dari perlakuan mereka. [16]
Kisah ini memang hampir sulit dipercaya, tetapi dapat menggambarkan bagaimana
bayangan orang tentang dinasti ‘Abba>siyyah.
Masa pemerintahan Abu> al-‘Abba>s
al-Shaffa>h, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M.
Ia meninggal karena serangan penyakit cacar, dan sebelum meninggal dia
mencalonkan saudaranya Abu> Ja'far
al-Manshu>r (754-775 M) untuk menggantikannya.[17]
Al-Manshu>r adalah khalifah terbesar dawlah ‘Abba>siyyah, meskipun bukan
muslim yang saleh. Dialah sebenarnya, bukan al-Shaffa>h yang membangun dawlah
ini. Bahkan seluruh khalifah yang berjumlah 38 orang berasal dari garis keturunannya.[18]
Periode awal kekuasaannya dilakukakan dengan usaha yang keras menghadapi
lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah,
Khawarij,
dan juga Syi'ah,
ia terus melengkapi struktur imperial absolutis ‘Abba>siyyah.[19]
Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan
baginya satu per satu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali,
keduanya adalah pamannya sendiri yang berjasa dalam meruntuhkan dinasti Umayyah
pada pertempuran di sungai Zab, yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah
sebelumnya di Syria
dan Mesir
dibunuh karena tidak bersedia membaiatnya, al-Manshu>r memerintahkan Abu> Muslim al-Khurasani
melakukannya, dan kemudian melakukan hal yang sama padanya karena dikhawatirkan
akan menjadi pesaing baginya. Sekte baru Persia yang ekstrim, kaum Rawandiyah
yang berusaha menyejajarkan khalifah dengan Tuhan juga dihabisi tanpa ampun
(758 M). Al-Manshu>r juga
menjadi orang pertama yang menyebabkan terjadinya perselisihan antara bani
‘Abba>s dan bani ‘Ali. Ia menganggap bahwa keturunan ‘Ali mempunyai
kemungkinan menjadi saingan bagi dinastinya. Pemberontakan Syi'ah yang kecewa
pada al-Manshu>r dibawah kepemimpinan Ibrahi>m dan saudaranya Muh}ammad
yang dijuluki sebagai al-Nafs al-Zakiyyah (jiwa yang suci), anak cucu Hasan
juga dipadamkan dengan brutal. Muh}ammad dibunuh dan jasadnya digantung di depan
publik di Madinah,
sementara Ibrahim dipenggal dekat Kufah dan kepalanya dikirimkan pada khalifah.[20]
Perlakuan al-Manshu>r terhadap keturunan khalifah ‘Ali merupakan lembaran
yang paling hitam dalam sejarah dawlah ‘Abba>siyyah. Ketika kondisi dalam negeri
berhasil diamankan, perang diperbatasan dengan musuh abadi di barat, Byzantium,
kembali digalakkan.
Kepemimpinan
al-Manshu>r juga menandai perberlakuan system wazir yaitu sebuah
jabatan setingkat perdana menteri,[21] sebagai koordinator departemen yang diadopsi
dari system ketatanegaraan Persia. Namun, Watt berpendapat bahwa hipotesis
mengenai asal-usul Persia sejauh ini belum terbukti. Kata wazir tampaknya
berasal dari bahasa Arab yang berarti pembantu atau penunjang yang dipakai dua
kali dalam al-Qur’a>n sehubungan dengan posisi Nabi Ha>ru>n
as terhadap Nabi
Mu>sa> as.[22] Disamping
itu, pada masa ini pengertian
khalifah
kembali berubah. Dia berkata: إنمـــا
عنى سلــــطان الله فى أرضه (Innama> ‘anni> Sultha>n Alla>h fi>
ardhih), sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya. Pada 7 oktober 775, al-Manshu>r
meninggal dekat Mekkah dalam perjalanan ibadah haji ketika usianya lebih dari 60 tahun. Seratus liang kubur digali
untuk menyamarkan makamnya dekat kota suci Mekkah yang tidak dapat dilacak dan
digali oleh musuh. Selama berabad-abad, berbagai kebijakannya dijadikan acuan
oleh penerusnya seperti halnya kebijakan Mu’awiyyah bagi khalifah-khalifah bani
Umayyah.
Dawlah ‘Abba>siyyah mencapai masa kejayaan politik
dan intelektualnya segera setelah didirikan. Kalau dasar-dasar pemerintahan dawlah ‘Abba>siyyah diletakkan
dan dibangun oleh Abu>
al-‘Abba>s dan
Abu>
Ja’far al-Manshu>r, maka
puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu: al-Mahdi
(775-785 M),
al-Ha>di
(775-786 M), Ha>ru>n
al-Rasyi>d
(785-809 M), al-Ma’mu>n
(813-833 M),
al-Mu’tashim
(833-842 M), al-Watsi>q
(842-847 M), dan al-Mutawakkil
(847-861 M). Pada masa al-Mahdi
perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui
irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan
besi. Perdagangan transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah
menjadi pelabuhan yang penting. Popularitas dawlah ‘Abba>siyyah mencapai
puncaknya di zaman khalifah Ha>ru>n al-Rasyi>d
(786-809 M) dan puteranya al-Ma'mu>n
(813-833 M), terutama karena dua khalifah hebat inilah dawlah ‘Abba>siyyah dikenal
baik dalam ingatan publik yang menjadikan dinasti ini paling terkenal dalam
sejarah Islam. Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Ha>ru>n al-Rasyi>d untuk keperluan sosial, dan mendirikan
rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya terdapat
paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum
juga dibangun. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan,
dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa
inilah negara Islam
menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. Argumentasi tentang kejayaan,
kekuatan dan kemajuan yang diraih pada zaman ini dapat diperoleh dari hubungan
internasional yang mereka lakukan.
Lembaran sejaran abad
ke-9 diawali dengan dua nama raja yang menguasai percaturan dunia; Charlemagne
di Barat dan Ha>ru>n al-Rasyi>d di timur. Namun, Ha>ru>n jelas
lebih berkuasa dan menampilkan budaya yang lebih tinggi. Charlemagne menjadikan
Ha>ru>n sebagai sekutu potensial untuk menghadapi Bizantium yang tidak
bersahabat, sementara Ha>ru>n memanfaatkan Charlemagne untuk menghadapi
lawannya yang berbahaya yaitu Dinasti Umayyah di Spanyol yang berhasil
membangun Negara kuat dan makmur. Hubungan persahabatan ini diwujudkan dalam
bentuk pertukaran para duta dan hadiah.[23]
Al-Rasyi>d dikenang dengan baik sebagai raja besar yang ideal dalam cerita Seribu
Satu Malam meskipun usianya kurang dari setengah abad. Kekuasaannya bahkan
melambangkan masyarakat Baghdad klasik pada ketinggiannya,[24]
dan muncul menjadi pusat dunia dengan
tingkat kemakmuran dan peran internasional yang luar biasa. Saat itulah Baghdad
menjadi kota yang tiada tandingannya diseluruh dunia.
Kebesaran dan
kejayaan Ha>ru>n bagaikan magnet yang menjadi contoh ideal kerajaan Islam
dan para penerusnya belakangan, dan telah menarik berbagai penyair, pelawak,
musisi, penyanyi, penari, pelatih anjing, ayam aduan dan profesi penghibur
lainnya. Seorang penyair berpaham bebas Abu> Nuwa>s yang menjadi teman
setian al-Rasyi>d dan pengawalnya dalam berbagai petualangan di malam hari
menggambarkan kisah-kisah yang tak terlupakan tentang kehidupan istana pada
masa jayanya yang sarat dengan anekdot-anekdot yang kebenarannya sangat
mudah dicerna.[25]
Periode pertama pemerintahan Bani Abbas
mencapai masa keemasannya dengan lebih
mengedepankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan
wilayah.[26]
Secara politis, para khalifah
betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama
sekaligus. Dalam bidang hukum, khalifah-khalifah
‘Abba>siyyah memberikan perhatian dan validitas sepenuhnya kepada hukum
syari’ah dan menyempurnakan mekanisme penerapannya, meskipun perkembangan yang
baru juga muncul. Tidak hanya para khalifah yang mulai memberlakukan
hukum-hukum khusus buatan mereka sendiri untuk menghadapi situasi-situasi yang
mendesak, tetapi juga muncul kumpulan hukum yang baru walaupun kecil yang
dibuat oleh otorita-otorita awam untuk melengkapi hukum syariah.[27] Di sisi lain, kemakmuran masyarakat
mencapai tingkat tertinggi. Periode ini berhasil menyiapkan landasan
perkembangan filsafat
dan ilmu pengetahuan dalam Islam.
Namun,
setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani ‘Abba>s mulai menurun dalam bidang politik,
meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.
C. Kemunduran
Khila>fah ‘Abba>siyyah
Dawlah ‘Abba>siyyah adalah dinasti Arab
terlama, pemerintahan mereka berlangsung selama lima abad. Namun sebetulnya
tidak demikian, dalam seratus tahun pertama puncak kejayaan mereka capai yang
dilambangkan oleh pemerintahan Ha>ru>n al-Rasyi>d yang terkenal. Kemudian perlahan kemunduran berlangsung, proses
perebutan kekuasaan yang kompleks dan berliku-liku, provinsi-provinsi
memisahkan diri dan dinasti pemberontak muncul. Akhirnya
otoritas khalifah terbatas hanya sekitar Baghdad. Sekitar tahun 1000 daerah ‘Abba>siyyah
sudah diperintah oleh Fatimiyyah (di Mesir, Palestina, dan Syiria Selatan),
Hamdaniyyah (Syiria utara, bagian Irak), Buwaihiyyah (Irak dan Iran),
Samaniyyah (Iran Timur dan Afganistan Barat), dan Ghaznaviyyah (Afganistan).
Kerajaan Fatimiyyah di Mesir dan cabang Umayyah yang bertahan dari serangan
gencar Abbasiyyah di Spanyol adalah dinasti-dinasti terkenal yang se zaman
dengan ‘Abba>siyyah.[28] Dengan kehancuran imperium
‘Abba>siyyah, mulai dipikirkan sebuah konsep pemerintahan yang baru untuk
menampung perubahan realitas politik. Sekalipun secara formal dawlah
‘Abba>siyyah terus berlangsung hingga tahun 1258, namun para khalifahnya
tidak lagi memiliki otoritas politik yang ekslusif. Penguasa-penguasa lainnya
di Mesir, Afrika Utara dan Spanyol mengklaim gelar privilise mereka,
hingga mereka benar-benar kehilangan kekuatan militer dan administratif.
Sekalipun demikian, mereka masih menjalankan sebuah peranan dalam urusan
peradilan dan keagamaan yang mana sang khalifah dipandang sebagai pimpinan
keagamaan dan dapat menangguhkan administrasi, peradilan dan pelaksanaan
peribadatan.[29] Kecepatan bangsa Arab dalam menguasai peradaban dunia
berbanding lurus dengan kemerosotan drastis kekuasaan mereka.
Perkembangan peradaban dan kebudayaan yang dicapai
oleh dawlah ‘Abba>siyyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa
untuk hidup mewah bahkan cenderung mencolok. Banyaknya jumlah harem, yang
dimungkinkan karena banyaknya jumlah kasim, budak perempuan dan laki-laki yang
masih kanak-kanak, gundik dan sanak saudara yang memenuhi istana kerajaan
memunculkan beragam intrik dan kecemburuan social. Standar hidup mewah yang
menonjolkan minuman keras dan nyanyian juga melemahkan vitalitas keluarga dan
menghasilkan keturunan-keturunan yang lemah yang terus memegang kekuasaan.
Faktor-faktor internal ini sebenarnya lebih dominan berperan dalam keruntuhan
dawlah ini.[30]
Adapun faktor-faktor eksternal yang ditandai dengan lonceng kematian yang
dibunyikan oleh Hulaghu Khan dengan serbuan kaum barbar (Mongol atau Tartar),
meskipun sangat dahsyat, sebenarnya hanya berperan sebagai senjata pamungkas
yang meruntuhkan kekhalifahan.
III. Dinasti
Kecil di Barat dan Timur
Kejayaan dawlah ‘Abba>siyyah sebenarnya
telah mulai memudar pada masa al-Watsiq yang diikuti oleh 27 khalifah
setelahnya, yang mana tak seorangpun dari mereka yang cakap dalam memimpin
sehingga kekuasaan para khalifah itu menjadi semakin berkurang dan akhirnya
hanya menjadi semacam bayangan di pusat dan menjadi alat bagi para menteri yang ambisius dan
korup. Kelemahan ini kemudian dimanfaatkan oleh para gubernur
provinsi dan para pejabat untuk melepaskan diri sehingga banyak kerajaan yang
merdeka.[31]
Kekuasaan
dawlah ‘Abba>siyyah
sebagaimana diketahui tidak pernah diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara, kecuali Mesir yang bersifat sebentar dan kebanyakan bersifat nominal.
Bahkan dalam kenyataannya, banyak daerah tidak dikuasai khalifah. Secara riil,
daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur provinsi bersangkutan.
Hubungannya dengan khilafah ditandai dengan pembayaran pajak. Ada kemungkinan
bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari
provinsi-provinsi tertentu, dengan pembayaran upeti itu. Hal ini sangat
beralasan mengingat para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk
kepadanya, disamping itu Penguasa Bani ‘Abba>s lebih menitikberatkan
pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. Akibat dari
kebijaksanaan ini, terjadilah disintegrasi dalam salah satu dari dua cara,
yaitu: pertama, Seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan
berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti daulah Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. Kedua, Seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur
oleh khalifah, kedudukannya semakin bertambah kuat, seperti dawlah Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan. Kecuali Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di
Marokko, provinsi-provinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti selama
mereka menyaksikan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi
pergolakan-pergolakan yang muncul.[32]
Namun, pada saat wibawa khalifah sudah memudar mereka melepaskan diri dari
kekuasaan Baghdad. Mereka bukan saja menggerogoti kekuasaan khalifah, tetapi
beberapa di antaranya bahkan berusaha menguasai khalifah itu sendiri seperti
yang dilakukan oleh Mamluk Turki, Bani Buwaihi dan Bani Seljuk.
Dinasti-dinasti
yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa dawlah
‘Abba>siyyah diantaranya adalah: di barat
Baghdad adalah; dinasti Thuluniyah di Mesir, (254-292 H/837-903 M), Ikhsyidiyah di Turkistan, (320-560 H/932-1163 M), Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil, (317-394 H/929- 1002 M), dinasti Idrisi
di Maroko (172-375 H / 788 M-985 M), dan dinasti Aghlabi (184 H-296 H / 800
M-908 M), Sementara di timur Baghdad dinasti-dinasti yang muncul diantaranya: Bani Thahiriyyah di Khurasan, (205-259 H/820-872 M), Bani Shafariyah di Fars, (254-290 H/868-901 M), Bani Samaniyah di Transoxania, (261-389 H/873-998 M), Bani Sajiyyah di Azerbaijan, (266-318 H/878-930 M), Bani
Buwaih, bahkan menguasai Baghdad, (320-447 H/ 932-1055 M). Ghaznawiyah di Afganistan, (351-585 H/962-1189 M), dan Bani
Seljuk/Salajiqah dan cabang-cabangnya: a. Seljuk besar, atau Seljuk Agung, didirikan oleh Rukn al-Din Abu
Thalib Tuqhril Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama sekitar 93 tahun (429-522H/1037-1127
M). Dan Sulthan Alib Arselan yang memenangkan
Perang Salib ke I atas kaisar Romanus IV dan berhasil menawannya. b. Seljuk Kinnan di Kirman, (433-583 H/1040-1187 M). c. Seljuk Syria atau Syam di Syria, (487-511 H/1094-1117 M). d. Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan, (511-590 H/1117-1194 M). e. Seljuk Ruum atau Asia kecil di Asia tengah (Jazirah Anatolia), (470-700 H/1077-1299 M).[33]
Kemunculan dinasti-dinasti kecil dengan latar
belakangnya masing-masing, nampak jelas disebabkan
adanya persaingan
antar bangsa, terutama antara Arab, Persia dan Turki. Disamping latar belakang
kebangsaan ini, dinasti-dinasti itu juga dilatar belakangi oleh
paham keagamaan, dimana ada yang berlatar belakang syi’ah maupun sunni.
IV. Kesimpulan
Bani ‘Abba>s adalah
nisbatdari para penguasa dawlah ‘Abba>siyyah yang merupakan keturunan
al-‘Abba>s, yang menunggang gelombang simpati rakyat melawan bani Umayyah.
Abu> al-‘Abba>s diumumkan sebagai khalifah pertama pada tahun 750 M
dengan gelar al-Saffa>h (penumpah darah). Ibukota negara yaitu
Baghdad, dengan nama resminya Madi>nah al-Sala>m, Kota Perdamaian.
Masa kejayaannya
dicapai pada zaman khalifah Ha>ru>n al-Rasyi>d
(786-809 M) dan puteranya al-Ma'mu>n
(813-833 M) dengan tingkat kemakmuran dan peran internasional yang luar biasa. Periode
pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya dengan lebih
mengedepankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan
wilayah.
Perkembangan peradaban dan kebudayaan yang dicapai
oleh dawlah ‘Abba>siyyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa
untuk hidup mewah bahkan cenderung mencolok. Faktor-faktor internal ini lebih
dominan berperan dalam keruntuhan dawlah ini. Adapun faktor-faktor eksternal
yang ditandai dengan lonceng kematian yang dibunyikan oleh Hulaghu Khan dengan
serbuan kaum barbar (Mongol atau Tartar), berperan sebagai senjata pamungkas
yang meruntuhkan kekhalifahan. Disintegrasi yang terjadi menyebabkan lahirnya dinasti-dinasti yang melepaskan diri dari kekuasaan
Baghdad. Di barat Baghdad terdapat; dinasti Thuluniyah di Mesir, Ikhsyidiyah di Turkistan, Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil, dinasti Idrisi di Maroko dan dinasti Aghlabi, Sementara
di timur, terdapat Bani Thahiriyyah di Khurasan, Bani Shafariyah di Fars, Bani Samaniyah di Transoxania, Bani Sajiyyah di Azerbaijan, Bani
Buwaih, Ghaznawiyah di Afganistan, dan Bani
Seljuk/Salajiqah.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmed,
Akbar S. Discovering Islam, Making Sense of Muslim History and Society. Penerjemah Zulfahmi Andri. Bandung: Pustaka, 1997.
Hitti,
Philip K. History of the Arabs.
Penerjemah R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2010.
Hodgson,
Marshal G.S. The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia,
Peradaban Khalifah Agung. Penerjemah Mulyadhi
Kartanegara. Jakarta: Paramadina, 2002.
Mahmudunnasir,
Syed. Islam Konsepsi dan Sejarahnya. Penerjemah Adang Affandi.
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
Rahman,
Fazlur. Islam. Penerjemah Ahsin Mohammad. Bandung: Pustaka, 1994.
Sunanto,
Musyrifah. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu
Pengetahuan Islam. Jakarta:
Kencana, 2004.
Syukur
NC, Fatah. Sejarah Peradaban Islam. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2010.
Tim
Redaksi Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.
Watt, W. Montgomery. Kejayaan Islam: Kajian Kritis
dari Tokoh Orientalis. Penerjemah Hartono Hadikusumo. Cet I. Yogyakarta: Tiara Wacana,
1990.
Yatim,
Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers, 2008.
[3] Musyrifah Sunanto, Sejarah
Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam (Jakarta: Kencana, 2004),
56.
[4] Syed Mahmudunnasir, Islam
Konsepsi dan Sejarahnya, Penerjemah Adang Affandi (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2005), 209
[5] Akbar S. Ahmed, Discovering
Islam, Making Sense of Muslim History and Society, (Bandung: Pustaka, 1997), 64-65.
[8] Dia membenarkan dirinya dengan
mengatakan bahwa bani Umayyah patut memperoleh semua balasan yang dapat
dilakukan terhadap mereka. Dia mengambil langkah tegas untuk membuat
kedudukannya terjamin karena terdapat banyak pemberontakan pada awal
pemerintahannya. Al-Saffah menggunakan kekuasaan dalam menindas kaum
reaksioner, namun untuk mengesankan rakyat Ia memperlihatkan dirinya sebagai
orang yang suci.
[10] Ira M. Lapidus, Sejarah
Sosial Ummat Islam Bagian Kesatu & Dua (Jakarta:
PT. RajaGrafindo Persada, 2000), 223.
[13] W. Montgomery Watt, Kejayaan
Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Cet I (Yogyakarta: Tiara
Wacana, 1990), 103.
[14] Lapidus, Sejarah Sosial
Ummat Islam, 105.
[15] Marshal G.S. Hodgson, The
Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, Peradaban Khalifah
Agung (Jakarta: Paramadina, 2002), 67-68.
[21] Tim Redaksi Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008),
1813.
[29] Lapidus, Sejarah Sosial
Ummat Islam, 223.

0 komentar: