Jumat, 07 Juni 2013

BANI ‘ABBAS: DINASTI KECIL DI BARAT DAN TIMUR

ad300
Advertisement


BANI ‘ABBA<S: DINASTI KECIL DI BARAT DAN TIMUR
Oleh : Arman  B.


I.     Pendahuluan
Kondisi internal dinasti Bani Umayyah dengan kelemahan klasik, khas kehidupan sosial orang Arab yang terlalu menekankan individualisme, semangat kesukuan dan pertikaian pada periode akhir, mengarahkan dinasti ini pada kelemahan yang secara eksternal membuka ruang menganga pada lawan politiknya untuk menumbangkan dinasti yang sudah sekarat ini. Gerakan revolusioner koalisi ‘Alawiyyi>n, ‘Abba>siyyah dan keturunan bangsa Persia, yang berpusat di Khurasan dibawah komando Abu> al-‘Abba>s akhirnya berhasil memberikan pukulan telak dengan terbunuhnya khalifah terakhir Umayyah pada pertempuran di sungai Zab.
Abu> al-‘Abba>s al-Saffa>h diangkat sebagai khalifah pertama dawlah ‘Abba>siyyah yang menandai tergantikannya aristokrasi Arab murni dengan hirarki pejabat yang dipilih dari beragam bangsa dengan melakukan koalisi. Arabisme runtuh, namun kekuasaan Islam terus berlanjut dibawah bendera Islam internasional yang multikulturalis. Dawlah ini kemudian berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Namun, keluasan wilayah yang tidak diimbangi dengan upaya komunikasi yang intens antara pusat dan daerah serta kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada persoalan politik yang diperparah kemewahan lifestyle dan kelemahan para khalifah dan faktor lainnya menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin.  Komplikasi penyakit ini menyebabkan terjadinya disintegrasi sehingga provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman.
Kemunculan dinasti-dinasti baik dibarat dan timur yang dalam istilah Hitti, bagai cendawan dimusim hujan, tampak sebagai gejala penyakit yang menjadikan si sakit telah berada diranjang kematiannya ketika perampok datang mendobrak pintu dan segera mengambil jatah dari warisan imperium. Lalu, bagaimana sejarah kemunculan dinasti-dinasti baik di barat maupun timur pada masa dawlah ‘Abba>siyyah?. Makalah ini akan memberikan ulasan secara singkat tentang kemunculan dawlah ‘Abba>siyyah, masa kejayaan dan kemundurannya serta kemunculan dinasti-dinasti baik di barat maupun di timur Baghdad.

II.   Bani Abbas
Sejarah merupakan bagian penting dari perjalanan sebuah umat, bangsa, negara, maupun individu. Keberadaan sejarah merupakan bagian dari proses kehidupan itu sendiri. Melalui sejarah, manusia dapat mengambil banyak pelajaran dari proses kehidupan suatu umat, bangsa atau individu.[1] Untuk tidak memutuskan benang merah dari sejarah dinasti yang berkuasa sebelumnya, maka sebelum mengulas lebih jauh tentang dawlah ‘Abba>siyyah, penulis akan menguraikan secara singkat tentang sejarah berdirinya dinasti ini, dan silang sengkarut penuh lika-liku pergantian kekuasaan yang melibatkan dua dinasti besar ini.

A.  Berdirinya Dinasti ‘Abba>siyyah

Bani ‘Abba>s atau dawlah ‘Abba>siyyah merupakan nama yang dinisbatkan kepada para pendiri dan penguasa dinasti ini yang merupakan keturunan al-‘Abba>s, paman Nabi Muhammad saw.[2] Bani ‘Abba>s mewarisi imperium besar dari Bani Umayyah yang memungkinkan mereka mencapai hasil yang lebih besar karena landasan yang telah dibangun oleh pendahulu mereka. Prestasi luar biasa Bani Umayyah yang dapat menaklukkan wilayah-wilayah kerajaan Romawi dan Persia segera disusul dengan prestasi yang jauh lebih hebat dalam penaklukan bidang ilmu pengetahuan pada abad berikutnya.[3] Penggantian ini dalam kepemimpinan masyarakat Islam lebih dari sekedar pergantian dinasti, tetapi juga merupakan suatu revolusi dalam sejarah Islam yang terjadi bukan hanya sebagai akibat komplotan istana atau perebutan kekuasaan tetapi lebih daripada itu, juga sebagai hasil propaganda dan organisasi yang apik nan luas dan revolusioner, yang mencerminkan ketidakpuasan unsur-unsur dikalangan penduduk terhadap rezim-rezim terdahulu dan menumpuk dalam jangka waktu yang panjang sehingga membentuk gerakan koalisi dari unsur-unsur yang berbeda, yang bersatu atas dasar keinginan dan kepentingan yang sama yaitu merobohkan tatanan yang ada.[4]
‘Abba>siyyah menunggang gelombang simpati rakyat melawan bani Umayyah. Mereka memaklumkan diri mereka sebagai kerajaan islam yang berbeda dari dinasti Arab Bani Umayyah. Mereka melihat diri mereka sendiri sebagai imam, penerus suci tradisi islam, yang terbakar oleh keinginan untuk membela Ali dan keturunannya. Hitam warna kematian dan perkabungan, untuk Ali dan keluarganya diasosiasikan dengan ‘Abba>siyyah dan dipanggil, sebagaimana di Cina, ’orang yang berjubah hitam’.[5] Jatuhnya dinasti Umayyah menandai kejayaan dan hegemoni Suriah yang telah berakhir dengan berpindahnya pusat gravitasi Islam ke timur.
Babak baru dalam drama (kalau bukan sinetron) besar politik Islam di awali dengan peran penting yang dimainkan oleh khaliah Abu> al-‘Abba>s (750-754), dan Irak menjadi panggung (layar dalam sinetron) bagi drama besar itu.[6] Abu> al-‘Abba>s diumumkan sebagai khalifah pertama di mesjid Kufah pada tahun 750 M.[7] Dalam pidato penobatannya yang disampaikan setahun sebelumnya, ia menyebut dirinya sebagai al-Saffa>h[8] (penumpah darah), yang kemudian menjadi julukannya. Hal ini mengisyaratkan bahwa dawlah ini lebih mengutamakan kekuasaan dalam menjalankan kebijakannya, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, disisi singgasana khalifah tergelar karpet yang digunakan sebagai tempat eksekusi. Al-Saffa>h menjadi pendiri dinasti Arab Islam ketiga setelah Khulafa> al-Ra>syidu>n dan Dinasti Umayyah, lalu kemudian penerusnya memegang pemerintahan setelahnya meskipun tidak selalu berkuasa selama lima abad dari tahun 750 M hingga 1258 M.[9] Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya yang belum mendapatkan stabilitasnya.
Pada umumnya, langkah pertama yang ditempuh oleh sebuah rezim baru adalah pembentukan ibukota baru sebagaimana yang dilakukan oleh rezim-rezim Timur Tengah sejak zaman kuno dengan membangun kota-kota baru sebagai markas besar militer dan staf administrasi untuk melambangkan datangnya sebuah tata pemerintahan baru.[10] Pada tahun 762 M., khalifah al-Manshu>r yang menggantikan al-Shaffa>h membangun kediaman di Hasimia, antara kufah dan Hirah, lalu kemudian memindahkan ibukota negara ke kota yang baru dibangunnya yaitu Baghdad,[11] tempat lahirnya sebuah kisah petualangan yang legendaris yang dikisahkan dalam kisah Seribu Satu Malam.
Kota Baghdad dipilih oleh al-Manshu>r sebagai ibukota dengan pertimbangan bahwa tempat tersebut merupakan tempat yang sangat strategis sebagai markas militer, selain itu karena kawasan ini dilintasi oleh sungai Tigris yang memungkinnya untuk dapat berhubungan dengan Cina, mengeruk hasil laut dan hasil makanan dari Mesopotamia dan sekitarnya. Kota ini dibangun selama empat tahun dengan menghabiskan biaya 4.883.000 dirham dan mempekerjakan lebih dari seratus ribu arsitek, pengrajin dan buruh.[12] Jalan-jalan yang mulus memusat ke Baghdad dari semua jurusan dan dapat dikatakan bahwa kota ini adalah tempat yang sangat cocok bagi segala kebutuhan kemaharajaan ‘Abba>siyyah. Pada tahun 762 M., al-Manshu>r menempati kota ini yang dirancang sebagai tempat yang aman bagi pusat pemerintahan khalifah, pejabat-pejabatnya, pasukannya dan lain sebagainya. Diluar kota segera muncul daerah niaga dan akhirnya keseluruhannya menjadi kota yang sangat besar pada zamannya. Nama resminya adalah Madi>nah al-Sala>m, Kota Perdamaian.[13] Baghdad kemudian berkembang pesat melampaui maksud-maksud pendirinya dan bertumbuh dari hanya sebagai sebuah pusat militer dan administratif menjadi kota besar. Baghdad bukan hanya pusat kota, tetapi juga sebagai pusat metropolitan yang kosmopolitan karena keragaman penduduknya.
Kebesaran Baghdad merupakan prestasi tidak tertandingi yang menunjukkan pentingnya kota ini dalam pembentukan dawlah ‘Abba>siyyah. Sebagai pusat kegiatan ekonomi,. Baghdad tumbuh menjadi kota perdagangan internasional dan sangat produktif dengan sejumlah industri penghasil tekstil, sutra, kertas dan lainnya. Baghdad kemudian menjadi kota terbesar dunia selain Cina.[14]

B.   Kekhalifahan Dawlah ‘Abba>siyyah
Khalifah ‘Abba>siyyah pertama, al-Shaffa>h yang menjadi kepala keluarga ‘Abba>siyyah pada saat gerakan merampas kekuasaan dinasti Bani Umayyah, menetapkan pola ‘Abba>si> terutama dalam artian bahwa ia memenggal tanpa pandang bulu, dengan sangat kejam dan kebrutalan yang sangat kasar sebanyak mungkin anggota keluarga Umayyah yang ia dapat tangani.[15] Tabiat ini tergambar dalam jamuan makan malam yang ia atur untuk saingannya dari Bani Umayyah. Jendral ’Abbasiyyah, Abdullah, mengundang 80 pemimpin Umayyah untuk menghadiri makan malam pada bulan juni 750, dirumahnya dekat Jaffa. Ketika para tamu duduk untuk makan mereka diserang oleh tentara. Setelah pembantaian itu, para pelayan membentangkan karpet diatas tubuh mereka yang sekarat, menggeliat, dan para tamu terus makan dan berpesta. Bahkan yang sudah mati dan dikuburpun tidak lepas dari perlakuan mereka. [16] Kisah ini memang hampir sulit dipercaya, tetapi dapat menggambarkan bagaimana bayangan orang tentang dinasti ‘Abba>siyyah.
Masa pemerintahan Abu> al-‘Abba>s al-Shaffa>h, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. Ia meninggal karena serangan penyakit cacar, dan sebelum meninggal dia mencalonkan saudaranya Abu> Ja'far al-Manshu>r (754-775 M) untuk menggantikannya.[17] Al-Manshu>r adalah khalifah terbesar dawlah ‘Abba>siyyah, meskipun bukan muslim yang saleh. Dialah sebenarnya, bukan al-Shaffa>h yang membangun dawlah ini. Bahkan seluruh khalifah yang berjumlah 38 orang berasal dari garis keturunannya.[18] Periode awal kekuasaannya dilakukakan dengan usaha yang keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi'ah, ia terus melengkapi struktur imperial absolutis ‘Abba>siyyah.[19] Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang berjasa dalam meruntuhkan dinasti Umayyah pada pertempuran di sungai Zab, yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir dibunuh karena tidak bersedia membaiatnya, al-Manshu>r memerintahkan Abu> Muslim al-Khurasani melakukannya, dan kemudian melakukan hal yang sama padanya karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya. Sekte baru Persia yang ekstrim, kaum Rawandiyah yang berusaha menyejajarkan khalifah dengan Tuhan juga dihabisi tanpa ampun (758 M). Al-Manshu>r juga menjadi orang pertama yang menyebabkan terjadinya perselisihan antara bani ‘Abba>s dan bani ‘Ali. Ia menganggap bahwa keturunan ‘Ali mempunyai kemungkinan menjadi saingan bagi dinastinya. Pemberontakan Syi'ah yang kecewa pada al-Manshu>r dibawah kepemimpinan Ibrahi>m dan saudaranya Muh}ammad yang dijuluki sebagai al-Nafs al-Zakiyyah (jiwa yang suci), anak cucu Hasan juga dipadamkan dengan brutal. Muh}ammad dibunuh dan jasadnya digantung di depan publik di Madinah, sementara Ibrahim dipenggal dekat Kufah dan kepalanya dikirimkan pada khalifah.[20] Perlakuan al-Manshu>r terhadap keturunan khalifah ‘Ali merupakan lembaran yang paling hitam dalam sejarah dawlah ‘Abba>siyyah. Ketika kondisi dalam negeri berhasil diamankan, perang diperbatasan dengan musuh abadi di barat, Byzantium, kembali digalakkan.
Kepemimpinan al-Manshu>r juga menandai perberlakuan system wazir yaitu sebuah jabatan setingkat perdana menteri,[21]  sebagai koordinator departemen yang diadopsi dari system ketatanegaraan Persia. Namun, Watt berpendapat bahwa hipotesis mengenai asal-usul Persia sejauh ini belum terbukti. Kata wazir tampaknya berasal dari bahasa Arab yang berarti pembantu atau penunjang yang dipakai dua kali dalam al-Qur’a>n sehubungan dengan posisi Nabi Ha>ru>n as terhadap Nabi Mu>sa> as.[22] Disamping itu, pada masa ini pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata:  إنمـــا عنى سلــــطان الله فى أرضه (Innama> ‘anni> Sultha>n Alla>h fi> ardhih), sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya. Pada 7 oktober 775, al-Manshu>r meninggal dekat Mekkah dalam perjalanan ibadah haji ketika usianya lebih dari 60 tahun. Seratus liang kubur digali untuk menyamarkan makamnya dekat kota suci Mekkah yang tidak dapat dilacak dan digali oleh musuh. Selama berabad-abad, berbagai kebijakannya dijadikan acuan oleh penerusnya seperti halnya kebijakan Mu’awiyyah bagi khalifah-khalifah bani Umayyah.
Dawlah ‘Abba>siyyah mencapai masa kejayaan politik dan intelektualnya segera setelah didirikan. Kalau dasar-dasar pemerintahan dawlah ‘Abba>siyyah diletakkan dan dibangun oleh Abu> al-Abba>s dan Abu> Ja’far al-Manshu>r, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu: al-Mahdi (775-785 M), al-Ha>di (775-786 M), Ha>ru>n al-Rasyi>d (785-809 M), al-Ma’mu>n (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Watsi>q (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Perdagangan transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting. Popularitas dawlah ‘Abba>siyyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Ha>ru>n al-Rasyi>d (786-809 M) dan puteranya al-Ma'mu>n (813-833 M), terutama karena dua khalifah hebat inilah dawlah ‘Abba>siyyah dikenal baik dalam ingatan publik yang menjadikan dinasti ini paling terkenal dalam sejarah Islam. Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Ha>ru>n al-Rasyi>d untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. Argumentasi tentang kejayaan, kekuatan dan kemajuan yang diraih pada zaman ini dapat diperoleh dari hubungan internasional yang mereka lakukan.
Lembaran sejaran abad ke-9 diawali dengan dua nama raja yang menguasai percaturan dunia; Charlemagne di Barat dan Ha>ru>n al-Rasyi>d di timur. Namun, Ha>ru>n jelas lebih berkuasa dan menampilkan budaya yang lebih tinggi. Charlemagne menjadikan Ha>ru>n sebagai sekutu potensial untuk menghadapi Bizantium yang tidak bersahabat, sementara Ha>ru>n memanfaatkan Charlemagne untuk menghadapi lawannya yang berbahaya yaitu Dinasti Umayyah di Spanyol yang berhasil membangun Negara kuat dan makmur. Hubungan persahabatan ini diwujudkan dalam bentuk pertukaran para duta dan hadiah.[23] Al-Rasyi>d dikenang dengan baik sebagai raja besar yang ideal dalam cerita Seribu Satu Malam meskipun usianya kurang dari setengah abad. Kekuasaannya bahkan melambangkan masyarakat Baghdad klasik pada ketinggiannya,[24]  dan muncul menjadi pusat dunia dengan tingkat kemakmuran dan peran internasional yang luar biasa. Saat itulah Baghdad menjadi kota yang tiada tandingannya diseluruh dunia. 
Kebesaran dan kejayaan Ha>ru>n bagaikan magnet yang menjadi contoh ideal kerajaan Islam dan para penerusnya belakangan, dan telah menarik berbagai penyair, pelawak, musisi, penyanyi, penari, pelatih anjing, ayam aduan dan profesi penghibur lainnya. Seorang penyair berpaham bebas Abu> Nuwa>s yang menjadi teman setian al-Rasyi>d dan pengawalnya dalam berbagai petualangan di malam hari menggambarkan kisah-kisah yang tak terlupakan tentang kehidupan istana pada masa jayanya yang sarat dengan anekdot-anekdot yang kebenarannya sangat mudah dicerna.[25]
Periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya dengan lebih mengedepankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah.[26] Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Dalam bidang hukum, khalifah-khalifah ‘Abba>siyyah memberikan perhatian dan validitas sepenuhnya kepada hukum syari’ah dan menyempurnakan mekanisme penerapannya, meskipun perkembangan yang baru juga muncul. Tidak hanya para khalifah yang mulai memberlakukan hukum-hukum khusus buatan mereka sendiri untuk menghadapi situasi-situasi yang mendesak, tetapi juga muncul kumpulan hukum yang baru walaupun kecil yang dibuat oleh otorita-otorita awam untuk melengkapi hukum syariah.[27] Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini berhasil menyiapkan landasan perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun, setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abba>s mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.
C.   Kemunduran Khila>fah Abba>siyyah
Dawlah ‘Abba>siyyah adalah dinasti Arab terlama, pemerintahan mereka berlangsung selama lima abad. Namun sebetulnya tidak demikian, dalam seratus tahun pertama puncak kejayaan mereka capai yang dilambangkan oleh pemerintahan Ha>ru>n al-Rasyi>d yang terkenal. Kemudian perlahan kemunduran berlangsung, proses perebutan kekuasaan yang kompleks dan berliku-liku, provinsi-provinsi memisahkan diri dan dinasti pemberontak muncul. Akhirnya otoritas khalifah terbatas hanya sekitar Baghdad. Sekitar tahun 1000 daerah ‘Abba>siyyah sudah diperintah oleh Fatimiyyah (di Mesir, Palestina, dan Syiria Selatan), Hamdaniyyah (Syiria utara, bagian Irak), Buwaihiyyah (Irak dan Iran), Samaniyyah (Iran Timur dan Afganistan Barat), dan Ghaznaviyyah (Afganistan). Kerajaan Fatimiyyah di Mesir dan cabang Umayyah yang bertahan dari serangan gencar Abbasiyyah di Spanyol adalah dinasti-dinasti terkenal yang se zaman dengan ‘Abba>siyyah.[28] Dengan kehancuran imperium ‘Abba>siyyah, mulai dipikirkan sebuah konsep pemerintahan yang baru untuk menampung perubahan realitas politik. Sekalipun secara formal dawlah ‘Abba>siyyah terus berlangsung hingga tahun 1258, namun para khalifahnya tidak lagi memiliki otoritas politik yang ekslusif. Penguasa-penguasa lainnya di Mesir, Afrika Utara dan Spanyol mengklaim gelar privilise mereka, hingga mereka benar-benar kehilangan kekuatan militer dan administratif. Sekalipun demikian, mereka masih menjalankan sebuah peranan dalam urusan peradilan dan keagamaan yang mana sang khalifah dipandang sebagai pimpinan keagamaan dan dapat menangguhkan administrasi, peradilan dan pelaksanaan peribadatan.[29] Kecepatan bangsa Arab dalam menguasai peradaban dunia berbanding lurus dengan kemerosotan drastis kekuasaan mereka.
Perkembangan peradaban dan kebudayaan yang dicapai oleh dawlah ‘Abba>siyyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah bahkan cenderung mencolok. Banyaknya jumlah harem, yang dimungkinkan karena banyaknya jumlah kasim, budak perempuan dan laki-laki yang masih kanak-kanak, gundik dan sanak saudara yang memenuhi istana kerajaan memunculkan beragam intrik dan kecemburuan social. Standar hidup mewah yang menonjolkan minuman keras dan nyanyian juga melemahkan vitalitas keluarga dan menghasilkan keturunan-keturunan yang lemah yang terus memegang kekuasaan. Faktor-faktor internal ini sebenarnya lebih dominan berperan dalam keruntuhan dawlah ini.[30] Adapun faktor-faktor eksternal yang ditandai dengan lonceng kematian yang dibunyikan oleh Hulaghu Khan dengan serbuan kaum barbar (Mongol atau Tartar), meskipun sangat dahsyat, sebenarnya hanya berperan sebagai senjata pamungkas yang meruntuhkan kekhalifahan.

III. Dinasti Kecil di Barat dan Timur
Kejayaan dawlah ‘Abba>siyyah sebenarnya telah mulai memudar pada masa al-Watsiq yang diikuti oleh 27 khalifah setelahnya, yang mana tak seorangpun dari mereka yang cakap dalam memimpin sehingga kekuasaan para khalifah itu menjadi semakin berkurang dan akhirnya hanya menjadi semacam bayangan di pusat dan menjadi  alat bagi para menteri yang ambisius dan korup. Kelemahan ini kemudian dimanfaatkan oleh para gubernur provinsi dan para pejabat untuk melepaskan diri sehingga banyak kerajaan yang merdeka.[31]
Kekuasaan dawlah ‘Abba>siyyah sebagaimana diketahui tidak pernah diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara, kecuali Mesir yang bersifat sebentar dan kebanyakan bersifat nominal. Bahkan dalam kenyataannya, banyak daerah tidak dikuasai khalifah. Secara riil, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur provinsi bersangkutan. Hubungannya dengan khilafah ditandai dengan pembayaran pajak. Ada kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari provinsi-provinsi tertentu, dengan pembayaran upeti itu. Hal ini sangat beralasan mengingat para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk kepadanya, disamping itu Penguasa Bani ‘Abba>s lebih menitikberatkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. Akibat dari kebijaksanaan ini, terjadilah disintegrasi dalam salah satu dari dua cara, yaitu: pertama, Seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti daulah Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. Kedua, Seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah, kedudukannya semakin bertambah kuat, seperti dawlah Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan. Kecuali Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko, provinsi-provinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti selama mereka menyaksikan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi pergolakan-pergolakan yang muncul.[32] Namun, pada saat wibawa khalifah sudah memudar mereka melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. Mereka bukan saja menggerogoti kekuasaan khalifah, tetapi beberapa di antaranya bahkan berusaha menguasai khalifah itu sendiri seperti yang dilakukan oleh Mamluk Turki, Bani Buwaihi dan Bani Seljuk.
Dinasti-dinasti yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa dawlah ‘Abba>siyyah diantaranya adalah: di barat Baghdad adalah; dinasti Thuluniyah di Mesir, (254-292 H/837-903 M), Ikhsyidiyah di Turkistan, (320-560 H/932-1163 M), Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil, (317-394 H/929- 1002 M), dinasti Idrisi di Maroko (172-375 H / 788 M-985 M), dan dinasti Aghlabi (184 H-296 H / 800 M-908 M), Sementara di timur Baghdad dinasti-dinasti yang muncul diantaranya: Bani Thahiriyyah di Khurasan, (205-259 H/820-872 M), Bani Shafariyah di Fars, (254-290 H/868-901 M), Bani Samaniyah di Transoxania, (261-389 H/873-998 M), Bani Sajiyyah di Azerbaijan, (266-318 H/878-930 M), Bani Buwaih, bahkan menguasai Baghdad, (320-447 H/ 932-1055 M). Ghaznawiyah di Afganistan, (351-585 H/962-1189 M), dan Bani Seljuk/Salajiqah dan cabang-cabangnya: a. Seljuk besar, atau Seljuk Agung, didirikan oleh Rukn al-Din Abu Thalib Tuqhril Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama sekitar 93 tahun (429-522H/1037-1127 M). Dan Sulthan Alib Arselan yang memenangkan Perang Salib ke I atas kaisar Romanus IV dan berhasil menawannya. b. Seljuk Kinnan di Kirman, (433-583 H/1040-1187 M). c. Seljuk Syria atau Syam di Syria, (487-511 H/1094-1117 M). d. Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan, (511-590 H/1117-1194 M). e. Seljuk Ruum atau Asia kecil di Asia tengah (Jazirah Anatolia), (470-700 H/1077-1299 M).[33]
Kemunculan dinasti-dinasti kecil dengan latar belakangnya masing-masing, nampak jelas disebabkan adanya persaingan antar bangsa, terutama antara Arab, Persia dan Turki. Disamping latar belakang kebangsaan ini, dinasti-dinasti itu juga dilatar belakangi oleh paham keagamaan, dimana ada yang berlatar belakang syi’ah maupun sunni.

IV. Kesimpulan
Bani ‘Abba>s adalah nisbatdari para penguasa dawlah ‘Abba>siyyah yang merupakan keturunan al-‘Abba>s, yang menunggang gelombang simpati rakyat melawan bani Umayyah. Abu> al-‘Abba>s diumumkan sebagai khalifah pertama pada tahun 750 M dengan gelar al-Saffa>h (penumpah darah). Ibukota negara yaitu Baghdad, dengan nama resminya Madi>nah al-Sala>m, Kota Perdamaian. Masa kejayaannya dicapai pada zaman khalifah Ha>ru>n al-Rasyi>d (786-809 M) dan puteranya al-Ma'mu>n (813-833 M) dengan tingkat kemakmuran dan peran internasional yang luar biasa. Periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya dengan lebih mengedepankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah.
Perkembangan peradaban dan kebudayaan yang dicapai oleh dawlah ‘Abba>siyyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah bahkan cenderung mencolok. Faktor-faktor internal ini lebih dominan berperan dalam keruntuhan dawlah ini. Adapun faktor-faktor eksternal yang ditandai dengan lonceng kematian yang dibunyikan oleh Hulaghu Khan dengan serbuan kaum barbar (Mongol atau Tartar), berperan sebagai senjata pamungkas yang meruntuhkan kekhalifahan. Disintegrasi yang terjadi menyebabkan lahirnya dinasti-dinasti yang melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. Di barat Baghdad terdapat; dinasti Thuluniyah di Mesir, Ikhsyidiyah di Turkistan, Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil, dinasti Idrisi di Maroko dan dinasti Aghlabi, Sementara di timur, terdapat Bani Thahiriyyah di Khurasan, Bani Shafariyah di Fars, Bani Samaniyah di Transoxania, Bani Sajiyyah di Azerbaijan, Bani Buwaih, Ghaznawiyah di Afganistan, dan Bani Seljuk/Salajiqah.






DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, Akbar S. Discovering Islam, Making Sense of Muslim History and Society. Penerjemah Zulfahmi Andri. Bandung: Pustaka, 1997.
Hitti, Philip K. History of the Arabs. Penerjemah R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2010.
Hodgson, Marshal G.S. The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, Peradaban Khalifah Agung. Penerjemah Mulyadhi Kartanegara. Jakarta: Paramadina, 2002.
Mahmudunnasir, Syed. Islam Konsepsi dan Sejarahnya. Penerjemah Adang Affandi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
Rahman, Fazlur. Islam. Penerjemah Ahsin Mohammad. Bandung: Pustaka, 1994.
Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Jakarta: Kencana, 2004.
Syukur NC, Fatah. Sejarah Peradaban Islam. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2010.
Tim Redaksi Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.
Watt, W. Montgomery. Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis. Penerjemah Hartono Hadikusumo. Cet I. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers, 2008.


[1] Fatah Syukur NC, Sejarah Peradaban Islam (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2010), 3.
[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), 49.

[3] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam (Jakarta: Kencana, 2004), 56.
[4] Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, Penerjemah Adang Affandi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 209
[5] Akbar S. Ahmed, Discovering Islam, Making Sense of Muslim History and Society,  (Bandung: Pustaka, 1997), 64-65.
[6] Philip K. Hitti, History of the Arabs, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2010), 358.
[7] Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, 211.
[8] Dia membenarkan dirinya dengan mengatakan bahwa bani Umayyah patut memperoleh semua balasan yang dapat dilakukan terhadap mereka. Dia mengambil langkah tegas untuk membuat kedudukannya terjamin karena terdapat banyak pemberontakan pada awal pemerintahannya. Al-Saffah menggunakan kekuasaan dalam menindas kaum reaksioner, namun untuk mengesankan rakyat Ia memperlihatkan dirinya sebagai orang yang suci.
[9] Hitti, History of the Arabs, 358.
[10] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian Kesatu & Dua   (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000), 223.
[11] Yatim, Sejarah Peradaban Islam, 51.
[12] Hitti, History of the Arabs, 363.
[13] W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Cet I (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), 103.
[14] Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, 105.
[15] Marshal G.S. Hodgson, The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, Peradaban Khalifah Agung (Jakarta: Paramadina, 2002), 67-68.
[16] Ahmed, Discovering Islam, 64-65.
[17] Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, 213.
[18] Hitti, History of the Arabs, 360.
[19] Hodgson, The Venture of Islam , 68.
[20] Hitti, History of the Arabs, 361.
[21] Tim Redaksi Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 1813.
[22] Watt, Kejayaan Islam, 104.

[23] Hitti, History of the Arabs, 361.
[24] Hodgson, The Venture of, 77.
[25] Hitti, History of the Arabs, 361.
[26] Yatim, Sejarah Peradaban Islam, 53.
[27] Fazlur Rahman, Islam, (Bandung: Pustaka, 1994), 109.

[28] Ahmed, Discovering Islam, 64-65.
[29] Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, 223.
[30] Hitti, History of the Arabs, 616.
[31] Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, 236.
[33] Yatim, Sejarah Peradaban Islam, 65-66.
Share This
Previous Post
Next Post

Pellentesque vitae lectus in mauris sollicitudin ornare sit amet eget ligula. Donec pharetra, arcu eu consectetur semper, est nulla sodales risus, vel efficitur orci justo quis tellus. Phasellus sit amet est pharetra

0 komentar: