![]() |
| Advertisement |
Tiba-tiba saja Riswan atau yang
lebih akrab dipanggil Attong datang menghadapkan dirinya sembari menuturkan
kesalahan yang telah diperbuatnya. Dengan penuh ta’zhim ia bertutur: “Pak! saya
minta maaf, tadi saya lambat bangun sehingga datang terlambat ke sekolah”.
Plong, saya diam seribu Bahasa mendengarkan kepolosan anak ini.
Dilematis…, adalah kosa kata yang
mungkin tepat untuk menggambarkan posisi saya sebagai seorang pendidik. Satu
sisi Attong harus diberikan “treatment” atas kesalahannya datang
terlambat sebagai upaya untuk membuatnya tidak mengulangi lagi perbuatannya dan
sebagi pelajaran bagi teman-temannya yang lain agar tidak mengikuti perbuatan
tersebut. Namun, dilain sisi Attong berhak mendapatkan penghargaan yang layak
atas sikap dan karakter positif yang telah ditampilkannya.
Pada kasus ini, Attong telah
menunjukkan karakter negative dan positif yang ditampilkan secara bersamaan. Pertama,
Kedisiplinan. Keterlambatannya datang ke sekolah menunjukkan rendahnya karakter
kedisiplinan yang dimilikinya. Kedua, Keberanian. Meskipun ia sadar telah
berbuat salah tetapi ia tetap memperlihatkan sikap keberanian untuk mengakui kesalahannya.
Ketiga, Kejujuran. Anak ini mengetahui bahwa ia bisa saja selamat dari ancaman
hukuman atas kesalahan yang telah diperbuatnya dengan cara menyembunyikan
kesalahannya, tetapi ia lebih memilih jujur mengakui kesalahan yang telah
diperbuatnya. Keempat, Tanggung jawab. Sikap keberaniannya untuk jujur mengakui
kesalahannya menunjukkan karakternya yang siap bertanggung jawab atas segala
perbuatan yang telah dilakukannya. Singkatnya, ada 1 karakter negative yang
telah diperbuatnya, namun kemudian hal itu diiringi oleh 3 karakter positif.
Bijaksana adalah kata yang tepat
dalam menghadapi setiap permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik. Kasus
seperti Attong sangat sering dijumpai oleh setiap guru. Ketika perspektif yang
digunakan adalah pandangan terhadap perilaku kesalahan yang diperbuat, maka
“treatment” yang digunakan pasti akan berorientasi pada punishment atau hukuman
sehingga si anak akan merasa menyesal dengan pengakuan yang telah dilakukannya.
Sebaliknya, jika perspektif yang digunakan adalah dengan melihat ketulusan,
kejujuran, keberanian dan tanggung jawab yang ditampilkannya setelah berbuat
kesalahan, maka “treatment” apakah yang cocok untuk diberikan kepada Attong?
Setiap pendidik pasti memiliki
jawabannya masing-masing.
#pendidikankarakter
#mendidikanak
#rewardandpunishment


0 komentar: