![]() |
| Advertisement |
PERUMUSAN MASALAH DALAM PENELITIAN
Oleh : Arman B.
I. Pendahuluan
Kehidupan sosial kemasyarakatan hampir selalu menimbulkan kondisi realitas yang kontradiktif dengan idealitasnya. Kondisi yang menimbulkan masalah ini mendorong segenap pihak baik secara personal maupun kelembagaan untuk melakukan penelitian dan pengkajian yang mendalam. Kegiatan penelitian selalu diawali dengan temuan adanya masalah lalu diakhiri dengan dijelaskan, diketahui, ditemukan, dipecahkan, lalu kemudian munculnya masalah baru.
Dapat dikatakan bahwa penelitian jenis apapun titik tolaknya tidak lain bersumber pada masalah. Tanpa masalah, penelitian tidak dapat dilaksanakan. Masalah harus dipikirkan dan dirumuskan secara jelas, sederhana, dan tuntas sewaktu akan mulai memikirkan penelitian. Hal ini disebabkan karena seluruh unsur penelitian lainnya berpangkal pada perumusan masalah tersebut.
Sebagian peneliti khususnya yang pemula sering beranggapan bahwa penelitian adalah kegiatan mengumpulkan data dan fakta. Bahkan, tidak sedikit peneliti yang begitu bersemangat mengumpulkan data dan fakta tanpa mengetahui permasalahan yang sesungguhnya yang hendak dipecahkan, ditemukan, atau diverifikasi. Hal ini disebabkan karena seringkali perumusan masalah dianggap sepele dan enteng oleh sebagian peneliti. Lalu, bagaimana merumuskan masalah dalam penelitian?. Makalah ini mencoba memberikan ulasan tentang perumusan masalah dalam penelitian yang meliputi pembatasan masalah, model perumusan masalah, analisis perumusan masalah, dan langkah-langkah dalam perumusan masalah.
II. Perumusan Masalah
Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan dewasa ini merupakan sambungan mata rantai upaya penemuan pengetahuan yang dilakukan oleh para ilmuan sebelumnya.[1] Kompleksitas jenis ilmu pengetahuan yang berhasil ditemukan berbanding lurus dengan metode, tekhnik, dan tekhnologi yang digunakan dalam upaya penemuan yang efektif dan canggih. Keterlibatan berbagai sarana dan prasarana penelitian penelitian, berbagai tekhnik pengumpulan dan analisis data, dan dukungan teori-teori dari berbagai cabang ilmu pengetahuan memberi sumbangan yang besar terhadap keefektifan metode penelitian ilmiah. Salah satu komponen yang sangat penting dan menentukan kualitas sebuah penelitian ilmiah adalah rumusan masalah. Dalam hal ini yang dimaksud masalah adalah masalah ilmiah penelitian (scientific research problems). Masalah penelitian inilah yang akan dipecahkan atau dicarikan solusinya melalui suatu proses penelitian ilmiah termasuk cara perumusan masalah dalam penelitian ilmiah tersebut.
Secara sederhana perkataan masalah dapat diartikan sebagai suatu persoalan yang harus dipecahkan atau sesuatu yang harus diselesaikan dan dicari pemecahannya.[2] Definisi lain mengemukakan bahwa masalah penelitian adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan.[3] Dalam pengertian lain disebutkan bahwa masalah adalah terjadinya kesenjangan atau kelainan dengan yang semestinya. Yang dimaksud dengan “yang semestinya” adalah aturan, baik yang tertulis maupun tidak, teori atau praktek. Masalah juga dapat diartikan sebagai pertanyaan yang memerlukan jawaban ilmiah, yakni jawaban yang diperoleh dengan langkah-langkah ilmiah. Langkah-langkah ilmiah ini adalah langkah-langkah yang dijelaskan dengan oleh metode ilmiah, yang dalam operasionalisasinya dengan metodologi riset.[4]
Dalam penelitian ilmiah, masalah haruslah merupakan perasaan yang benar-benar dirasakan oleh peneliti itu sendiri, dengan demikan ia akan lebih terdorong oleh motivasi intrinsic untuk memecahkannya dan tidak sekedar menyelesaikan penelitian ilmiah sebagai syarat untuk memperoleh hal tertentu.[5] Oleh sebab itu, seorang peneliti harus mampu melihat, menemukan, dan merumuskan masalah-masalah dalam lingkungannya sendiri sesuai dengan spesifikasi keilmuan yang dimiliki. Masalah penelitian dapat diperoleh melalui berbagai macam kemungkinan, melalui jalur bacaan teoritis, bacaan buku-buku, majalah, surat kabar, dan berbagai media cetak lainnya, melalui jalur diskusi, seminar, internet, dan sebagainya. Juga dapat melalui penjelajahan formal, atau tidak formal dalam wujud pengalaman panca indra yang bersentuhan dengan realita, jalur media elektronik seperti siaran televisi dan radio, mendengarkan ceramah, khutbah, dan lain sebagainya.
Kapabilitas dan kredibilitas seorang peneliti bukan hanya ditentukan oleh frekuensi dan jam terbang penelitian yang dilakukan, melainkan juga oleh kemampuan dalam memilih masalah penelitian yang layak. Kegiatan untuk menemukan masalah penelitian yang kemudian diidentifikasi, dipikirkan, dan diuji secara mendalam lalu dirumuskan, merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam kegiatan penelitian. Bahkan, kemampuan merumuskan masalah yang baik dapat dikatakan telah menyelesaikan hampir setengah dari kegiatan penelitian itu sendiri. Kesulitan menemukan masalah yang baik bukan disebabkan oleh ketiadaan masalah itu sendiri, sebab masalah dalam penelitian bersifat tidak terbatas. Peneliti yang sedang mencari masalah dapat diibaratkan sebagai seorang yang berbelanja dipasar besar atau mall besar; bukan barangnya yang tidak ada, sulit dicari, atau tidak ada barang yang menarik, melainkan bagaimana memilih barang yang dapat menjawab persoalan kebetuhannya yang paling mendasar (primer) berdasarkan kemampuan keuangan, pengetahuan terhadap barang itu sendiri, keterbatasan waktu, dan sebagainya. Semua barang yang ada di pasar atau di mall adalah barang yang menarik bagi subyek tertentu yang memerlukannya berdasarkan konteks atau setting yang dihadapi. Ada orang yang cukup punya uang tetapi bisa jadi tidak mampu memperoleh barang yang berkualitas karena keterbatasan pengetahuan terhadap barang itu sendiri. Sebaliknya, ada orang yang memiliki pengetahuan yang cukup terhadap barang yang berkualitas tetapi keuangan tidak memadai.
Sebagaimana telah disebutkan, bahwa penelitian akan berjalan dengan baik jika peneliti dapat menghayati masalah. Memang, untuk bekerja dengan baik permasalahan penelitian haruslah menarik perhatian bagi peneliti. Secara singkat, dapat dikemukakan bahwa faktor-faktor kondisi yang dibangun peneliti tersebut ada yang bersumber dari diri peneliti maupun dari luar. Dalam pandangan Arikunto, terdapat empat hal yang harus dipenuhi bagi terpilihnya masalah , yaitu:
1. Penelitian harus sesuai dengan minat peneliti
Meneliti bukanlah pekerjaan mudah. Kegiatan ini harus betul-betul diniati. Apabila permasalahan tidak sesuai dengan minat, maka peneliti tidak akan bergairah untuk melaksanakannya. Faktor minat ini kelihatannya tidak normal dan bersifat subjektif. Namun demikian, biasanya faktor ini berkaitan erat dengan hal yang bersifat formal yaitu keahlian. Disamping hasilnya akan lebih baik, manfaat lain adalah pertanggung jawaban ilmiah.
2. Penelitian dapat dilaksanakan
Penelitian yang akan dilaksanakan harus mempertimbangkan; a) kemampuan dalam meneliti masalah berdasarkan penguasaan teori yang melatarbelakangi masalah dan metode pemecahannya, b) ketersediaan waktu yang cukup dalam melaksanakan penelitian, c) tenaga yang cukup kuat baik fisik maupun mental dalam merencanakan, menyusun alat pengumpul data, mengumpulkan data dan menyusun laporan, d) ketersediaan dana yang cukup untuk biaya transportasi, alat tulis-menulis, biaya penggandaan, dan lain-lain.
3. Tersedianya faktor pendukung
Faktor pendukung yang bersumber dari luar peneliti antara lain; tersedianya data sehingga penelitian dapat dijawab, ada izin dari yang berwenang.
4. Hasil penelitian memberikan manfaat.
Kegiatan penelitian yang menggunakan tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit semestinya dapat menghasilkan manfaat. Penelitian harus dilaksanakan dengan tujuan memberikan sumbangsih bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan peningkatan efektivitas kerja.[6]
Untuk menghindari penelitian yang asal-asalan atau persoalan remeh yang tidak banyak berguna, yang sudah menjadi pengetahuan publik dan tidak perlu lagi mencari jawaban melalui penelitian, maka pemilihan permasalahan harus memperhatikan hal-hal berikut ini; pembatasan masalah, model perumusan masalah, analisis perumusan masalah dan langkah-langkah dalam merumuskan masalah.
A. Pembatasan Masalah
Masalah adalah lebih dari sekedar pertanyaan, dan jelas berbeda dengan tujuan. Pertanyaan, lebih lanjut harus dirumuskan dan dibatasi secara spesifik agar tidak menimbulkan kebingungan dalam mengetahui dengan jelas keterangan dan data apa sebenarnya yang harus dikumpulkan serta kesimpulan apa yang pada akhirnya dapat diambil pada hasil penelitian.[7] Masalah penelitian dapat berasal dari berbagai sumber. Dalam hal ini tentu peneliti terlebih dahulu harus melukiskan masalah seluas mungkin yang dapat dijangkau oleh pikirannya berdasarkan realitas yang ditemukannya. Namun, karena keterbatasan kemampuan, baik pengetahuan, waktu, tenaga, biaya dan fasilitas lainnya, maka peneliti harus membatasi masalahnya.
Masalah dalam penelitian dapat dibatasi dengan bertumpu pada sesuatu fokus. Masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang menimbulkan tanda-tanya dan dengan sendirinya memerlukan upaya untuk mencari sesuatu jawaban. Faktor yang berhubungan tersebut dalam hal ini mungkin berupa konsep, data empiris, pengalaman, atau unsur lainnya. Jika kedua faktor itu diletakkan secara berpasangan akan menghasilkan sejumlah tanda-tanya, kesukaran yaitu sesuatu yang tidak dipahami atau tidak dapat dijelaskan pada waktu itu.[8] Sebagai contoh: fokus penelitiannya adalah ketidakdisiplinan pegawai. Untuk menelaah penyebabnya peneliti mungkin ingin menelaahnya dari sisi kepemimpinan atasan, tingkat kesejahteraan, lingkungan kerja yang tidak kondusif. Faktor-faktor tersebut dapatlah dikaitkan untuk menjajaki penyebab terjadinya ketidakdisiplinan pegawai. Dengan demikian masalah penelitiannya menjadi sebagai berikut: Apakah ada kaitan antara kepemimpinan atasan dengan dengan ketidakdisiplinan pegawai?, Bagaimanakah pengaruh tingkat kesejahteraan, apakah hal ini menjadi sumber penyebab ketidakdisiplinan pegawai?, Apakah lingkungan kerja yang tidak kondusif ada kaitannya dengan etos kerja yang menyebabkan ketidakdisiplinan pegawai?.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah faktor-faktor tersebut haruslah dapat diukur dan dimanage (measurable and managable). Agar dapat diukur maka faktor-faktor tersebut harus konseptual, artinya faktor tersebut harus didukung oleh teori-teori sehingga akan lebih mudah mengukurnya karena indikator-indikatornya jelas dideskripsikan dalam teori-teori yang relevan. Faktor-faktor dapat di-manage artinya data dengan mudah dapat dikumpulkan dan tersedianya atau bersedianya responden sebagai unit analisis untuk mengisi instrumen penelitian.
Ada dua maksud tertentu yang ingin dicapai dalam merumuskan masalah penelitian dengan jalan memaanfaatkan fokus. Pertama, penetapan fokus dapat membatasi masalah. Jadi, dalam hal ini fokus akan membatasi bidang inquiri. Jika peneliti membatasi diri dengan upaya menemukan teori dari dasar, maka lapangan penelitian lainnya tidak akan dimanfaatkan lagi.[9] Pada contoh tersebut diatas, jelas bahwa subjek penelitian adalah pegawai. Jadi, peneliti tidak perlu kesana kemari untuk mencari subjek penelitian, karena dengan sendirinya telah dibatasi oleh fokusnya. Kedua, penetapan fokus itu berfungsi untuk memenuhi kriteria iklusi-eksklusi atau kriteri masuk-keluar (inclusion-exlusion criteria) suatu informasi yang baru diperoleh dilapangan. Dengan bimbingan dan arahan suatu fokus seorang peneliti tahu persis data mana dan data tentang apa yang perlu dikumpulkan dan data mana pula, yang walaupun mungkin menarik, karena tidak terlalu relevan, tidak perlu lagi dimasukkan kedalam sejumlah data yang sedang dikumpulkan.
B. Model Perumusan Masalah
Berdasarkan level of explanation suatu gejala, Loncoln dan Guba sebagaimana yang dikutip Muhadjir,[10] membagi model rumusan masalah secara umum dalam tiga bentuk rumusan masalah, yaitu rumusan masalah deskriptif, komparatif dan assosiatif.
1. Rumusan masalah deskriptif
Merupakan suatu rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengeksplorasi dan atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam.
2. Rumusan masalah komparatif
Merupakan rumusan masalah yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks sosial atau domain satu dibandingkan dengan yang lain.
3. Rumusan masalah assosiatif
Merupakan hubungan rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengkonstruksi hubungan antara situasi sosial atau domain satu dengan yang lainnya. Rumusan masalah assosiatif dibagi menjadi tiga yaitu, hubungan simetris, kausal dan reciprocal atau interaktif. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Selanjutnya hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Dalam penelitian kualitatif hubungan yang diamati atau ditemukan adalah hubungan yang bersifat reciprocal atau interaktif.
Dalam penelitian kuantitatif, ketiga rumusan masalah tersebut terkait dengan variable penelitian, sehingga rumusan masalah penelitian sangat spesifik, dan akan digunakan sebagai panduan bagi peneliti untuk menentukan landasan teori, hipotesis, insrumen, dan teknik analisis data. Oleh karena itu, rumusan masalah yang merupakan fokus penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk lapangan atau situasi sosial tertentu. Namun demikian, setiap peneliti baik peneliti kuantitatif mau pun kualitatif tetap harus membuat rumusan masalah. Pertanyaan penelitian kualitatif di rumuskan dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dalam kaitannya dengan aspek-aspek lain (in context). Peneliti yang meggunakan pendekatan kualitatif, pada tahap awal penelitiannya akan mengembangkan fokus penelitian sambil mengumpulkan data. Proses seperti ini disebut “emergent design”. Namun yang jelas, tidak ada keseragaman model rumusan masalah dalam penyajian, karena para peneliti berasal dari berbagai macam disiplin ilmu dengan beragam latar belakang metodologi penelitian.
C. Analisis Perumusan Masalah
Penelitian yang dilakukan, agar dapat berjalan dengan baik, maka masalah yang telah dipilih sebaiknya dianalisis terlebih dahulu dari segi proses ataupun tujuannya. Analisis itu dapat dilihat dalam perspektif subtansi, teori dan metode, juga proses penelitian dan manfaatnya. Suprayogo dan Tobroni,[11] mengemukakan bahwa sekurang-kurangnya terdapat lima hal perlu dianalisis dari permasalahan penelitian, yaitu:
Pertama, analisis terhadap substansi dari masalah itu sendiri. Masalah yang dipilih memiliki relevansi akademik dalam arti termasuk bidang keilmuan apa; misalnya sosiologi, antropologi, manajemen, teologi, hukum dan sebagainya. Dengan mengetahui kedudukan masalah dalam konteks keilmuan yang ada, peneliti dapat menelusuri dan mendalami permasalahan itu dan menempatkannya dalam pokok bahasan atau sub pokok bahasan bidang ilmu tersebut.
Kedua, analisis teori dan metode. Masalah yang dipilih hendaknya dapat dicari rujukan kepustakaan, perspektif teoritik, dan metodenya. Dengan pertimbangan ini dapat ditelusuri kajian kepustakaan baik berupa jurnal, maupun hasil penelitian terdahulu sehingga peneliti akan semakin tajam dan terarah dalam membangun pisau analisanya terhadap fokus penelitiannya. Sementara perspektif teoritik bermanfaat bagi peneliti agar memiliki starting point dan point of view yang jelas sehingga dapat semakin peka dan kritis dalam mencermati setiap fenomena yang berkaitan dengan penelitiannya.
Ketiga, analisis intitusional. Jenis, bobot dan tujuan penelitian hendaknya disesuaikan dengan institusi dimana peneliti mempersembahkan hasil penelitiannya. Penelitian untuk persyaratan gelar akademik tentu berbeda dengan penelitian pesanan atau penelitian tindakan (action research).
Keempat, analisis metodologis. Masalah yang diangkat hendaklah terjangkau, baik dari aspek metode pengumpulan data maupun datanya sendiri. Penelitian yang melibatkan kaum elite atau pejabat biasanya akan lebih sulit jika dibandingkan dengan masyarakat awam. Itulah sebabnya hasil penelitian tentang elite, baik dalam bidang politik, ekonomi, agama, hukum dan sebagainya lebih sedikit jumlahnya.
Kelima, masalah yang diangkat hendaklah yang actual disamping berarti dan bermakna. Peneliti hendaklah menghindari masalah-masalah yang sudah banyak diteliti. Masalah-masalah yang sepertinya menarik tetapi tidak fungsional, baik bagi peneliti, institusi, masyarakat maupun pengembangan ilmu, sebaiknya ditinggalkan.
D. Langkah-langkah dalam Perumusan Masalah
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang sistematis, maka rumusan masalah hendaknya juga disusun secara sistematis pula. Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam perumusan masalah penelitian dalam pandangan Moleong adalah sebagai berikut:
Langkah 1 : Menentukan fokus penelitian.
Langkah 2 : Mencari berbagai kemungkinan factor yang ada kaitannya dengan focus tersebut yang dalam hal ini dinamakan subfokus.
Langkah 3 : Dari antara factor-faktor yang terkait, adakan pengkajian mana yang sangat menarik untuk ditelaah, kemudian tetapkan mana yang dipilih.
Langkah 4 : kaitkan secara logis factor-faktor subfokus yang dipilih dengan focus penelitian.[12]
Perumusan masalah dalam penelitian semestinya memang harus dipertimbangkan secara matang baik faktor objektifnya maupun subjektifnya, lalu kemudian dievaluasi secara cermat terhadap aspek ontologinya (hakikat/substansi), epistemologinya (bagaimana menjangkau dan memecahkannya), dan terlebih penting adalah aspek aksiologi (kegunaan) dari masalah yang dipilih, sehingga pada gilirannya hasil penelitian dapat memiliki tempat dalam bangunan bidang pengetahuan yang diteliti dalam rangka mengisi kekosongan, memantapkan, melengkapi atau mengevaluasi hasil penelitian sebelumnya. Dengan demikian, hasil pengetahuan memiliki kontribusi dan relevansi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
III. Kesimpulan
Masalah dapat diartikan sebagai suatu persoalan yang harus dipecahkan atau sesuatu yang harus diselesaikan dan dicari pemecahannya, yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan, yang menyebabkan terjadinya kesenjangan atau kelainan dengan yang semestinya. Kapabilitas dan kredibilitas seorang peneliti bukan hanya ditentukan oleh frekuensi dan jam terbang penelitian yang dilakukan, melainkan juga oleh kemampuan dalam memilih masalah penelitian yang layak. Terdapat empat hal yang harus dipenuhi bagi terpilihnya masalah , yaitu: Penelitian harus sesuai dengan minat peneliti, penelitian dapat dilaksanakan, tersedianya faktor pendukung, dan hasil penelitian dapat memberikan manfaat.
Masalah penelitian harus dirumuskan dan dibatasi secara spesifik agar tidak menimbulkan kebingungan dalam mengetahui dengan jelas keterangan dan data apa sebenarnya yang harus dikumpulkan serta kesimpulan apa yang pada akhirnya dapat diambil pada hasil penelitian. Masalah dalam penelitian dapat dibatasi dengan bertumpu pada sesuatu fokus. Ada dua maksud tertentu yang ingin dicapai dalam merumuskan masalah penelitian dengan jalan memaanfaatkan fokus. Pertama, penetapan fokus dapat membatasi masalah. Kedua, penetapan fokus itu berfungsi untuk memenuhi kriteria iklusi-eksklusi atau kriteri masuk-keluar (inclusion-exlusion criteria) suatu informasi yang baru diperoleh dilapangan.
Model rumusan masalah secara umum dapat dibagi dalam tiga bentuk rumusan masalah, yaitu rumusan masalah deskriptif, komparatif dan assosiatif. Adapun analisis masalah sekurang-kurangnya terdapat lima hal, yaitu: Pertama, analisis terhadap substansi dari masalah itu sendiri. Kedua, analisis teori dan metode. Ketiga, analisis intitusional. Keempat, analisis metodologis. Kelima, masalah yang diangkat hendaklah yang actual disamping berarti dan bermakna. Sementara langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam perumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut: menentukan fokus penelitian, mencari berbagai kemungkinan faktor yang ada kaitannya dengan fokus tersebut, dan dari antara faktor-faktor yang terkait, diadakan pengkajian mana yang sangat menarik untuk ditelaah, kemudian menetapkan mana yang dipilih, lalu dikaitkan secara logis faktor-faktor subfokus yang dipilih dengan fokus penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi V. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi IV. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002.
Bachtiar, Wardi. Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah. Jakarta: Logos, 1997.
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006.
Muhadjir, Noeng. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi III. Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998.
Nasution, S dan M. Thomas. Buku Penuntun Membuat Thesis, Skripsi, Disertasi, Makalah. Bandung: Jemmars, 1985.
Suprayogo, Imam dan Tobroni. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003.
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Ilmu Pendidikan Teoretis. Bagian I. Bandung: PT. Imtima, 2009.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.
[1] Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Ilmu Pendidikan Teoretis (Bandung: PT. Imtima, 2009), 330.
[2] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 991.
[3] Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003), 33.
[4] Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah (Jakarta: Logos, 1997), 43.
[5] S. Nasution dan M. Thomas, Buku Penuntun Membuat Thesis, Skripsi, Disertasi, Makalah (Bandung: Jemmars, 1985), 72-73.
[6] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), 31.
[7] S. Nasution dan M. Thomas, Buku Penuntun, 85.
[8] Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), 93.
[9] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 94.
[10] Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), 86.
[11] Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, 44.

Informasi yang bagus. bagaimana sih cara membuat rumusan masalah penelitian yang baik
BalasHapus